Sumber Berita : Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian |
Sukamandi – Pemerintah optimis bahwa pengembangan padi hibrida dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya peningkatan produksi pangan. Hal ini dikatakan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA saat melakukan panen padi hibrida varietas SL – 8 SHS di Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada rabu (3/4/2012) Menurut Mentan, produktivitas padi hibrida lebih tinggi dari rerata produktivitas nasional tahun lalu yang hanya mencapai 5,1 ton per hektar.”Varietas padi hibrida dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produksi. Meskipun saat ini benih padi hibrida masih diimpor, namun ke depan akan dikembangkan untuk menghasilkan benih hibrida bagi petani,” katanya. Lebih lanjut dikatakan Mentan, pada tahun 2012, pemerintah berencana untuk melakukan kegiatan pengembangan Dem Area atau area percontohan pengembangan padi hibrida seluas 200 hektare. Kegiatan tersebut untuk mendukung pencapaian surplus 10 juta ton beras pada tahun 2012. “Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengembangan padi hibrida baik yang dibiayai oleh pemerintah maupun swadaya petani. Untuk pengembangan Dem Area pada lahan seluas 200 ribu hektar tersebut memerlukan benih sekitar 3000 ton,”jelas Mentan.. Berdasarkan data tahun 2011, luas tanam padi hibrida di Indonesia baru mencapai 494.368 hektar atau sekitar 3,94 persen dari total luas tanam padi. “Padahal Lembaga Riset Padi Internasional (IRRI) dan Organisasi Pangan Dunia (FAO) telah merekomendasikan pengembangan padi hibrida ke negara Asia termasuk Indonesia sejak tahun 2000. Dijelaskan Mentan, belum luasnya pertanaman padi hibrida karena kalangan petani belum tahu keunggulan benih padi tersebut dan bagaimana cara bercocok tanam yang baik serta terbatasnya produksi benih padi hibrida dalam negeri. Untuk itu, Pemerintah telah menyiapkan dana sebesar Rp 150 Miliar pada tahun 2012 untuk pengembangan Dem Area padi hibrida. |
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 April 2012
Pemerintah Optimis Padi Hibrida Mampu Tingkatkan Produksi Pangan
Senin, 02 April 2012
PRODUK HOLTIKULTURA: Perlu komitmen bersama tekan impor
Oleh Herry Suhendra
Sementara itu Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Hortikultura Nasional (DHN) Gun Soetopo mengatakan bahwa masih banyak ditemukan produk hortikultura impor yang tercemar pestisida tinggi.
MENELUSURI AKAR KETIMPANGAN DAN KESEMPATAN BARU: CATATAN TENTANG SEJARAH PERKEBUNAN INDONESIA
| Oleh : Bambang Purwanto (purwanto349@yahoo.co.uk) |
Selasa, 06 Maret 2012
Cara Budidaya Kacang Tanah
I. PENDAHULUAN
Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil yang maksimum. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh faktor tanah yang makin keras (rusak) dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro serta hormon pertumbuhan. Disamping itu juga karena faktor hama dan penyakit tanaman, faktor iklim, serta faktor pemeliharaan lainnya.
PT. NASA berusaha berperan meningkatkan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan ( Aspek K – 3 ).
Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil yang maksimum. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh faktor tanah yang makin keras (rusak) dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro serta hormon pertumbuhan. Disamping itu juga karena faktor hama dan penyakit tanaman, faktor iklim, serta faktor pemeliharaan lainnya.
PT. NASA berusaha berperan meningkatkan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan ( Aspek K – 3 ).
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
a. Curah hujan antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan bunga sulit terserbuki oleh serangga dan akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.
b. Suhu udara sekitar 28-320C. Bila suhunya di bawah 100C, pertumbuhan tanaman akan terhambat, bahkan kerdil.
c. Kelembaban udara berkisar 65-75 %.
d.Penyinaran matahari penuh dibutuhkan, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.
2.1. Iklim
a. Curah hujan antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan bunga sulit terserbuki oleh serangga dan akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.
b. Suhu udara sekitar 28-320C. Bila suhunya di bawah 100C, pertumbuhan tanaman akan terhambat, bahkan kerdil.
c. Kelembaban udara berkisar 65-75 %.
d.Penyinaran matahari penuh dibutuhkan, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.
2.2. Media Tanam
a. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah gembur / bertekstur ringan dan subur.
b. pH antara 6,0-6,5.
c. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati.
d. Drainase dan aerasi baik, lahan tidak terlalu becek dan kering baik bagi pertumbuhan kacang tanah.
a. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah gembur / bertekstur ringan dan subur.
b. pH antara 6,0-6,5.
c. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati.
d. Drainase dan aerasi baik, lahan tidak terlalu becek dan kering baik bagi pertumbuhan kacang tanah.
2.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian penanaman optimum 50 – 500 m dpl, tetapi masih dapat tumbuh di bawah ketinggian 1.500 m dpl.
Ketinggian penanaman optimum 50 – 500 m dpl, tetapi masih dapat tumbuh di bawah ketinggian 1.500 m dpl.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah yang baik adalah:
a. Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul.
b. Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat.
c. Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat.
d. Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain.
e. Kadar air benih berkisar 9-12 %.
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah yang baik adalah:
a. Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul.
b. Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat.
c. Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat.
d. Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain.
e. Kadar air benih berkisar 9-12 %.
3.1.2. Penyiapan Benih
Benih sebaiknya disimpan di tempat kering yang konstan dan tertutup rapat. Untuk menjamin kualitas benih, lebih baik membeli dari Balai Benih atau Penangkar Benih yang telah ditunjuk oleh Balai Sertifikasi Benih.
Benih sebaiknya disimpan di tempat kering yang konstan dan tertutup rapat. Untuk menjamin kualitas benih, lebih baik membeli dari Balai Benih atau Penangkar Benih yang telah ditunjuk oleh Balai Sertifikasi Benih.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan dan Pembukaan lahan
Pembukaan lahan dengan pembajakan dan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit.
3.2.1. Persiapan dan Pembukaan lahan
Pembukaan lahan dengan pembajakan dan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit.
3.2.2. Pembentukan Bedengan
Buat bedengan ukuran lebar 80 cm, panjang menyesuaikan, ketebalan bedengan 20-30 cm. Diantara bedengan dibuatkan parit.
Buat bedengan ukuran lebar 80 cm, panjang menyesuaikan, ketebalan bedengan 20-30 cm. Diantara bedengan dibuatkan parit.
3.2.3. Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam dilakukan pengapuran dengan dosis + 1 – 2,5 ton/ha selambat-lambatnya 1 bulan sebelum tanam.
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam dilakukan pengapuran dengan dosis + 1 – 2,5 ton/ha selambat-lambatnya 1 bulan sebelum tanam.
3.2.4. Pemberian Natural GLIO
Untuk mencegah terjadinya serangan jamur berikan Natural GLIO. Pengembangbiakan Natural GLIO dengan cara: 1-2 sachet Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik) . Pemberian Natural GLIO pada sore hari.
Untuk mencegah terjadinya serangan jamur berikan Natural GLIO. Pengembangbiakan Natural GLIO dengan cara: 1-2 sachet Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik) . Pemberian Natural GLIO pada sore hari.
3.2.5. Pemberian Pupuk Makro dan SUPER NASA
Jenis dan dosis pupuk setiap hektar adalah:
a. Pupuk kandang 2 – 4 ton/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam.
b. Pupuk anorganik : SP-36 (100 kg/ha), ZA (100 kg/ha) dan KCl (50 kg/ha) atau sesuai rekomendasi setempat.
c. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1-2 botol (500-1000 cc) diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2 (10-20 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA.
Jenis dan dosis pupuk setiap hektar adalah:
a. Pupuk kandang 2 – 4 ton/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam.
b. Pupuk anorganik : SP-36 (100 kg/ha), ZA (100 kg/ha) dan KCl (50 kg/ha) atau sesuai rekomendasi setempat.
c. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1-2 botol (500-1000 cc) diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2 (10-20 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA.
Adapun cara penggunaan SUPER NASA sbb :
alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram + 10 meter bedengan.
alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram + 10 meter bedengan.
Semua dosis pupuk makro diberikan saat tanam. Pupuk diberikan di kanan dan kiri lubang tugal sedalam 3 cm.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanam memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah yang subur, benih kacang tanah ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 40 x 15 cm, 30 x 20 cm, atau 20 x 20 cm.
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanam memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah yang subur, benih kacang tanah ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 40 x 15 cm, 30 x 20 cm, atau 20 x 20 cm.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm menggunakan tugal dengan jarak seperti yang telah ditentukan di atas.
Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm menggunakan tugal dengan jarak seperti yang telah ditentukan di atas.
3.3.3. Perendaman Benih dengan POC NASA
Pilih benih yang baik dan agar benih dapat berkecambah dengan cepat dan serempak, benih direndam dalam larutan POC NASA (1-2 cc/liter air) selama + 0,5 1 jam.
Pilih benih yang baik dan agar benih dapat berkecambah dengan cepat dan serempak, benih direndam dalam larutan POC NASA (1-2 cc/liter air) selama + 0,5 1 jam.
3.3.4. Cara Penanaman
Masukan benih 1 atau 2 butir ke dalam lubang tanam dengan tanah tipis. Waktu tanam yang paling baik dilahan kering pada awal musim hujan, di lahan sawah dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September (palawija II).
Masukan benih 1 atau 2 butir ke dalam lubang tanam dengan tanah tipis. Waktu tanam yang paling baik dilahan kering pada awal musim hujan, di lahan sawah dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September (palawija II).
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Sulam benih yang tidak tumbuh atau mati, untuk penyulaman lebih cepat lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh ± 3-7 hari setelah tanam).
3.4.1. Penyulaman
Sulam benih yang tidak tumbuh atau mati, untuk penyulaman lebih cepat lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh ± 3-7 hari setelah tanam).
3.4.2. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan 2 kali umur 1 dan 6 minggu dengan hati-hati agar tidak merusak bunga dan polong.
Pembumbunan dilakukan bersamaan saat penyiangan, bertujuan untuk menutup bagian perakaran.
Penyiangan dilakukan 2 kali umur 1 dan 6 minggu dengan hati-hati agar tidak merusak bunga dan polong.
Pembumbunan dilakukan bersamaan saat penyiangan, bertujuan untuk menutup bagian perakaran.
3.4.3. Pemberian POC NASA dan HORMONIK
Penyemprotan POC NASA dilakukan 2 minggu sekali semenjak berumur 1-2 minggu (4-5 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan.
Penyemprotan POC NASA dilakukan 2 minggu sekali semenjak berumur 1-2 minggu (4-5 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan.
3.4.5. Pengairan dan Penyiraman
Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada musim kemarau dapat diberikan mulsa (jerami dan lain-lain). Saat berbunga tidak dilakukan penyiraman, karena dapat mengganggu penyerbukan.
Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada musim kemarau dapat diberikan mulsa (jerami dan lain-lain). Saat berbunga tidak dilakukan penyiraman, karena dapat mengganggu penyerbukan.
3.4.6. Pemeliharaan Lain
Hal-hal lain yang sangat menunjang faktor pemeliharaan bisa dilakukan, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeliharaan tunas dan bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang kesehatan tanaman).
Hal-hal lain yang sangat menunjang faktor pemeliharaan bisa dilakukan, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeliharaan tunas dan bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang kesehatan tanaman).
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
a. Uret
Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong. Akhirnya tanaman layu dan mati. Pengendalian: olah tanah dengan baik, penggunaan pupuk kandang yang sudah matang, menanam serempak, penyiangan intensif, Penggunaan Pestona dengan cara disiramkan ke tanah, jika tanaman terlanjur mati segera dicabut dan uret dimusnahkan.
b. Ulat Penggulung Daun
Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
c. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat memakan epidermis daun dan tulang secara berkelompok. Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan menggunakan Natural Vitura.
d. Ulat Jengkal (Plusia sp)
Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
e. Kumbang Daun
Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan menggunakan Pestona.
3.5.1. Hama
a. Uret
Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong. Akhirnya tanaman layu dan mati. Pengendalian: olah tanah dengan baik, penggunaan pupuk kandang yang sudah matang, menanam serempak, penyiangan intensif, Penggunaan Pestona dengan cara disiramkan ke tanah, jika tanaman terlanjur mati segera dicabut dan uret dimusnahkan.
b. Ulat Penggulung Daun
Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
c. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat memakan epidermis daun dan tulang secara berkelompok. Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan menggunakan Natural Vitura.
d. Ulat Jengkal (Plusia sp)
Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan menggunakan Pestona.
e. Kumbang Daun
Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan menggunakan Pestona.
3.5.2. Penyakit
a. Penyakit layu atau “Omo Wedangâ€
Penyebab: bakteri Xanthomonas solanacearum (E.F.S.). Gejala: daun terkulai seperti disiram air panas, akhirnya mati. Bila dipotong tampak noda coklat pada bagian pembuluh kayu dan bila dipijit keluar lendir kekuningan. Akar tanaman membusuk. Pengendalian: Pergiliran tanaman, gunakan varietas yang tahan. Penting melakukan pencegahan menggunakan Natural GLIO.
b. Penyakit sapu setan
Penyebab: Mycoplasma (sejenis virus). Diduga ditularkan serangga sejenis Aphis. Gejala: bunga berwarna hijau tua seperti daun-daun kecil, ruas-ruas batang dan cabang menjadi pendek, daun-daun kecil rimbun. Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan), menanam tanaman yang tahan, menanggulangi vektornya menggunakan Pestona atau Natural BVR.
c. Penyakit Bercak Daun
Penyebab : Jamur Cercospora personata dan Cercospora arachidicola. Gejala: timbul bercak-bercak berukuran 1-5 mm, berwarna coklat dan hitam pada daun dan batang. Pengendalian: dengan menggunakan Natural GLIO di awal tanam sebagai tindakan pencegahan.
d. Penyakit Gapong
Penyebab: diduga Nematoda. Gejala: Polong kosong, juga bisa busuk. Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya.
e. Penyakit Sclerotium
Penyebab: cendawan Sclerotium rolfsii. Gejala: tanaman layu. Pengendalian: gunakan varietas yang resisten, air jangan sampai menggenang, membakar tanaman yang terserang cendawan. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
f. Penyakit Karat
Penyebab: cendawan Puccinia arachidis Speg. Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak coklat muda sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya. Pengendalian: gunakan varietas yang resisten, tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
a. Penyakit layu atau “Omo Wedangâ€
Penyebab: bakteri Xanthomonas solanacearum (E.F.S.). Gejala: daun terkulai seperti disiram air panas, akhirnya mati. Bila dipotong tampak noda coklat pada bagian pembuluh kayu dan bila dipijit keluar lendir kekuningan. Akar tanaman membusuk. Pengendalian: Pergiliran tanaman, gunakan varietas yang tahan. Penting melakukan pencegahan menggunakan Natural GLIO.
b. Penyakit sapu setan
Penyebab: Mycoplasma (sejenis virus). Diduga ditularkan serangga sejenis Aphis. Gejala: bunga berwarna hijau tua seperti daun-daun kecil, ruas-ruas batang dan cabang menjadi pendek, daun-daun kecil rimbun. Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan), menanam tanaman yang tahan, menanggulangi vektornya menggunakan Pestona atau Natural BVR.
c. Penyakit Bercak Daun
Penyebab : Jamur Cercospora personata dan Cercospora arachidicola. Gejala: timbul bercak-bercak berukuran 1-5 mm, berwarna coklat dan hitam pada daun dan batang. Pengendalian: dengan menggunakan Natural GLIO di awal tanam sebagai tindakan pencegahan.
d. Penyakit Gapong
Penyebab: diduga Nematoda. Gejala: Polong kosong, juga bisa busuk. Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya.
e. Penyakit Sclerotium
Penyebab: cendawan Sclerotium rolfsii. Gejala: tanaman layu. Pengendalian: gunakan varietas yang resisten, air jangan sampai menggenang, membakar tanaman yang terserang cendawan. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
f. Penyakit Karat
Penyebab: cendawan Puccinia arachidis Speg. Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak coklat muda sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya. Pengendalian: gunakan varietas yang resisten, tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
3.6. Panen
Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek ± 3-4 bulan dan umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain:
a) Batang mulai mengeras.
b) Daun menguning dan sebagian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh dan keras.
c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.
3.6. Panen
Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek ± 3-4 bulan dan umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain:
a) Batang mulai mengeras.
b) Daun menguning dan sebagian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh dan keras.
c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.
Rabu, 29 Februari 2012
Hirotako, Ingin Pertanian Indonesia Mendunia
Hirotako Hirano asli orang Jepang. Namun, peneliti dan pengusaha ini peduli untuk memajukan pertanian di Indonesia. Sejak 1992 hingga kini, ia setia menjembatani petani dan siswa sekolah menengah pertanian Indonesia mengikuti program magang pertanian ke Jepang.
Langkah ini ia pilih agar sumber daya manusia Indonesia di bidang pertanian bisa unggul. ”Suatu saat, hasil pertanian Indonesia harus mendunia,” katanya.
Hirano, ahli penyilangan benih ini, mengembangkan berbagai komoditas pertanian Jepang yang bisa ditanam di Indonesia. Tanaman asal Jepang, seperti labu raksasa, labu dengan beragam bentuk, semangka raksasa, cabai, dan tomat, diuji coba untuk ditanam di daerah dataran rendah dan tinggi.
Setelah sukses mengembangkan SMK pertanian di Sulawesi Selatan, selama tiga bulan terakhir, dia terjun langsung di SMKN 1 Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Sejumlah komoditas pertanian dari Jepang dan Indonesia dikembangkan di area rumah kaca dan terbuka milik sekolah yang didirikan tahun 2004 ini.
Misalnya, jagung putih dan bawang merah jumbo (satu benih hanya menghasilkan satu bawang merah di atas tanah dengan berat mencapai 120 gram) yang tumbuh di lahan sekolah pada ketinggian sekitar 900 meter dari permukaan laut ini. Ia digandeng SMKN 1 Pacet untuk mengembangkan beragam komoditas pertanian yang bernilai tinggi dan bisa diterima pasar modern hingga diekspor ke Jepang. ”Saya melihat SMKN 1 Pacet berpotensi. Selama setahun, saya tinggal agar sekolah ini bisa unggul di bidang pertanian,” tuturnya.
Prihatin
Hirano prihatin dengan pertanian Indonesia yang tak kunjung maju. Padahal, Indonesia berpotensi untuk unggul. ”Saya ingin orang Indonesia berani bilang dan bangga, ini durian Indonesia. Ini jambu Indonesia, tak pakai jambu bangkok.”
Ia mengatakan, Indonesia bisa mengembangkan potensi tanaman sayur-mayur, buah, hingga bunga yang beragam. Didukung iklim tropis, pertanian Indonesia semestinya berkembang pesat.
”Pertanian Indonesia perlu dibangunkan dari tidurnya lewat anak muda yang bersekolah di bidang pertanian,” ujarnya.
Keterlibatannya menyiapkan lulusan sekolah menengah pertanian di Indonesia mengikuti program magang di Jepang berawal dari ajakan kenalannya yang bekerja pada semacam koperasi unit desa (KUD) di Ibaraki, Jepang. Kenalannya itu mau membuat program untuk membantu Indonesia.
Hirano bersedia menjembatani petani Indonesia mengikuti program magang di Jepang yang dibiayai Pemerintah Jepang. Selain Indonesia, program magang yang awalnya selama 6-12 bulan itu juga ditawarkan kepada petani China, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Mereka ditempatkan di daerah pertanian Jepang di Provinsi Ibaraki (sentra beras) dan Yamanashi (sentra sayur- mayur).
Ia bekerja sama dengan Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) merekrut anak-anak petani berusia 23-30 tahun yang siap magang. Sebelumnya, mereka dilatih dulu di Sukabumi, Jawa Barat.
Pada tahap awal, program ini mampu mendorong petani muda dari Indonesia untuk belajar banyak dari sistem pertanian Jepang. Beberapa alumnus magang berhasil mengembangkan KUD dan bisnis pertanian di tempat masing-masing. Hirano pun makin bersemangat mencari calon petani.
Setelah lima tahun berjalan, pemilihan calon yang mau magang ini bernuansa KKN. Akibatnya, orang yang dipilih tak tepat, ada yang melarikan diri sebelum program magang berakhir. ”Saya sedih. Saya, kok, dikhianati,” katanya.
Ketika Orde Baru tumbang, kerja sama dengan Inkud selesai. Hirano menjajaki kerja sama dengan Departemen Pertanian. Di sinilah mulai direkrut lulusan sekolah pertanian pembangunan dan sekolah pertanian menengah atas.
Mutu peserta magang dari Indonesia semakin memuaskan dan kebijakan magang ditingkatkan menjadi tiga tahun. Bahkan, dalam perjalanan waktu, Pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan yang tak membedakan antara pekerja asing dan Jepang. Mereka digaji, diberi asuransi, dan dikenai pajak yang sama.
Hirano menyebutkan, gaji peserta magang bisa mencapai Rp 15 juta per bulan. Tempat tinggal ditanggung, sedangkan biaya hidup berkisar Rp 3 juta per bulan.
Dalam mempersiapkan peserta magang, ia memperhatikan betul kualitas dan standar Pemerintah Jepang. Saat ada keluhan kemampuan Matematika orang Indonesia rendah, ia turun tangan. Hasil tes calon peserta saat itu cuma mencapai standar kelas III SD di Jepang.
”Saya tak mau orang Indonesia direndahkan karena Matematika. Kami berikan pelatihan khusus untuk memperkuat Matematika. Ternyata mereka bisa,” katanya.
Hirano sempat merasa lelah. Ada rasa sedih karena tak banyak peserta magang yang setelah kembali ke Indonesia mengontak dia. ”Padahal, sederhana saja, saya cuma ingin dikabari, ditelepon anak-anak,” ungkapnya.
Hirano sempat ingin berhenti. Namun, Departemen Pertanian dan Japan International Training Corporation memintanya terus bertugas demi hubungan dan kerja sama kedua negara. Meski begitu, tetap ada peserta yang melarikan diri.
”Saya lapor ke Departemen Pertanian, kenapa tak ada pengawasan atau seleksi ketat dalam memilih peserta magang, tetapi belum ada jawaban,” katanya.
Bagaimanapun, Hirano tetap yakin program ini bermanfaat. Pada 2005, ia mendirikan Yayasan Agro Internasional Indonesia di Pekanbaru, Riau, untuk menjembatani program magang pertanian. Ia menampung calon peserta magang dari sekolah menengah pertanian sejumlah daerah. Mereka yang lulus tes akan mengikuti program magang.
Berubah
Hirano mengaku jatuh cinta pada Indonesia. Awalnya, ia berkecimpung di bidang pariwisata. Ia datang ke Indonesia tahun 1973 saat menggarap proyek musik di Kepulauan Seribu.
Setahun kemudian, ia mendapat beasiswa S-2 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia. ”Saya punya mimpi keliling Indonesia. Saya buat program-program yang memungkinkan keliling Indonesia,” ungkapnya.
Awalnya, soal pertanian tak ia perhitungkan. Semuanya berubah tahun 1992, saat pesawat JAL jatuh dan 456 penumpangnya meninggal. Musibah itu membuat Direktur Utama JAL Mr Takagi mengundurkan diri. Padahal, ia banyak membantu program Hirano.
Sejak itulah, ia beralih ke bidang pertanian. Kecintaannya pada tanaman mendorongnya membuka potensi pertanian Indonesia. ”Saya ingin Indonesia bangga dengan hasil pertaniannya,” katanya lagi, meyakinkan.
http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...nesia.Mendunia
Pepaya Callina Temuannya Dijual Dengan Nama Pepaya California
Rasa bangga rakyat negeri ini akan produk atau hasil dalam negeri tampaknya masih kurang, khususnya untuk buah produk lokal.
Di pasaran, terutama di kota-kota besar, dengan mudah kita jumpai buah-buahan impor. Buah itu antara lain apel, jeruk, durian, pisang, bahkan pepaya pun berlabel impor, yaitu california papaya atau havana/hawaii papaya.
“Padahal, tak ada pepaya impor. Semua itu pepaya hasil pemuliaan yang dilakukan Pusat Kajian Tropika IPB,” kata Sriani.
Buah pepaya hasil produk dalam negeri diberi label atau nama daerah negara lain demi untuk mencari keuntungan finansial semata.
Hal itu terjadi pada pohon pepaya callina yang merupakan varitas temuan Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, MS dari Institut Pertanian Bogor (IPB) diubah namanya menjadi pepaya california agar laku terjual di supermarket.
Pepaya callina yang merupakan buah lokal asli Indonesia tersebut, kini banyak ditanam para petani di berbagai daerah karena berbagai keunggulannya dan tingginya permintaan pasar. Tingginya belum sampai satu meter dan usianya baru delapan bulan, tapi pohon pepaya callina sudah bisa menghasilkan puluhan buah lezat siap panen dan siap dipasarkan.
Pepaya berukuran kecil dengan bobot rata-rata 1,3 kg per buah ini banyak dijual di supermarket-supermarket besar, sebagian di antaranya dilabel dengan nama “pepaya california”.
“Yang menamakan itu pepaya california bukan kami, tapi pedagangnya. Padahal itu adalah pepaya callina hasil pemuliaan yang kami lakukan bertahun-tahun,” kata Dr Sriani, kepala Divisi Pemuliaan Tanaman, Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB.
“Menurut distributor dan pedagangnya, kalau tidak dilabeli pepaya impor, buah itu tak laku dijual. Saya tidak percaya. Kalau buah itu kualitasnya bagus, pasti banyak pembelinya. Pepaya hasil pemuliaan kami itu manis rasanya,” lanjutnya.
“Terus terang saya sedih dan sakit hati dengan pengubahan nama tersebut, tapi kami tidak mungkin mengajukan tuntutan hukum karena nama buah ini tidak dipatenkan,” katanya.
Varitas ini, tambahnya, adalah untuk publik domain, jadi petani pun dapat mengembangkannya sendiri.
“Namun secara etika, seharusnya pengusaha tidak mengganti nama buah tersebut meskipun alasannya agar menarik pembeli,” kata wanita kelahiran Ponorogo, Jatim, 28 Oktober 1955 itu.
Kalangan petani sendiri masih menyebutnya pepaya callina, tapi kemudian oleh pengusaha yang membeli diberi label sebagai pepaya california sehingga seolah-olah itu pepaya asli dari Amerika Serikat.
Demikian juga dengan pepaya carisya temuan Dr Sriani dkk di PKBT IPB, setelah di supermarket namanya berubah menjadi pepaya havana.
Namun terlepas dari soal nama tadi, ada hal yang membuat hati Sriani senang, karena itu menunjukkan bahwa hasil kerja keras dan penelitiannya telah berhasil memberi manfaat kepada para petani, dan membuktikan bahwa sebenarnya buah lokal tidak kalah dengan buah impor yang saat ini membanjiri pasar Indonesia.
“Lebih senang lagi jika mendengar laporan dari petani bahwa mereka berhasil mengembangkan pepaya callina ini di daerahnya, dan mendapat keuntungan yang lumayan,” katanya.
Pepaya callina adalah salah satu satu temuan Sriani yang berhasil dikembangkan petani dan diterima masyarakat. Varitas ini dapat beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, termasuk di tanah berpasir di tepi pantai seperti yang dikembangkan di Jawa Timur.
Sriani menceritakan bahwa varitas callina ini awalnya dari pepaya yang ditemukan di kebun milik seorang warga Bogor bernama Pak Okim. Pemiliknya mengaku bahwa bibit pepaya itu berasal dari Amerika Serikat, meskipun belum ditelusuri kebenarannya.
Kemudian Sriani dan timnya melakukan breeding atau pemuliaan atas buah tersebut dan melakukan penelitian serta uji coba selama tujuh tahun sebelum akhirnya melahirkan varitas yang dinamakan callina atau california-Indonesia.
Atas ketekunannya dalam pemuliaan buah lokal itu, Sriani mendapat sejumlah penghargaan dari berbagai kalangan.
Di antaranya penghargaan Rektor IPB, penghargaan Riset Unggulan Strategi Nasional (Rusnas Award 2004) dari Kementerian Riset dan Teknologi, Satyalencana Karyasatya dari Presiden RI tahun 2006, Penghargaan Kepedulian dan Penegakan HaKI dari Presiden RI tahun 2007, Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa tahun 2009, dan tahun 2010 ia mendapat penghargaan dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
Terkait profesinya sebagai dosen, Sriani juga pernah mendapat penghargaan sebagai Dosen Berprestasi IPB tahun 2006 dan juga Dosen Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun yang sama.
Biasa di Kebun
Anak pertama dari tujuh bersaudara pasangan Soedjijo dan Sri Rumiati ini sejak masa kecilnya sudah tidak asing lagi dengan kebun buah-buahan. Kakeknya pernah jadi kepala desa di Ponorogo dan punya tanah cukup luas berisi aneka tanaman buah-buahan.
“Waktu kecil saya sering bermain di kebun buah, jadi saya sudah terbiasa bekerja di kebun,” kata Sriani yang saat ini juga banyak menghabiskan waktunya di kebun plasma nutfah PKBT IPB di Tajur, Bogor.
Selepas SMA di Ponorogo, Sriani melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan karirnya di IPB sebagai dosen dan menyelesaikan kuliah S2. Gelar doktor diraihnya di Universiti Putra Malaysia (UPM) tahun 1997 di bidang pemuliaan tanaman.
Sriani kini tetap dengan kesibukannya sebagai dosen di IPB dan juga sebagai peneliti. Tempat kerjanya pun berpindah-pindah. Selain di kantor PKBT IPB di kampus Baranangsiang, Bogor, ia juga terkadang harus ke kampus IPB Dramaga. Kemudian pada hari-hari tertentu gurubesar IPB itu juga ada di kebun plasma di Tajur, atau kebun-kebun mitra IPB lainnya.
Sriani sendiri masih punya keinginan agar buah lokal Indonesia bisa kembali merajai pasar di negeri sendiri, sehingga kesejahteraan para petani pun meningkat.
“Saya tidak akan berhenti di sini saja, banyak potensi-potensi buah lokal yang bisa dikembangkan. Kami di PKBT dituntut untuk bisa menyediakan varitas-varitas unggul lainnya,” kata ibu empat anak hasil pernikahannya dengan Dr Ir Enisar Sangun itu.
Apalagi dengan serbuan buah impor, Sriani khawatir buah lokal makin terpinggirkan. Misalnya saja buah jeruk yang saat ini banyak didatangkan dari China.
“Padahal kita punya jeruk medan, jeruk pontianak, jeruk so`e, atau juga jeruk pulung dari Jawa Timur, itu semua menurut saya lebih enak dan lebih segar dari pada jeruk impor,” katanya.
Menurut dia, perlu ada kebijakan politik dari Pemerintah untuk menahan serbuan buah impor ke Indonesia ini, agar petani buah Indonesia dapat kembali bergairah. Ia juga mendukung gerakan “Gemari Buah Lokal” yang dicanangkan para alumni IPB baru-baru ini.
“Mudah-mudahan makin tumbuh juga kecintaan masyarakat Indonesia terhadap buah lokal, sehingga mereka tetap memilih buah lokal meskipun harganya lebih mahal dari buah impor,” katanya.
“Kebergantungan pada produk impor diharapkan dapat dihilangkan, atau setidaknya dikurangi, sehingga ketahanan dan kedaulatan pangan kita dapat diwujudkan,” kata Sriani.
Dulu ada yang namanya PEPAYA BANGKOK
trus AYAM BANGKOK
Lama kelamaan naek level nih PEPAYA CALIFORNIA
tar ada AYAM CALIFORNIA juga nieh....
Jumat, 20 Januari 2012
IPB Perbanyak Cabai Unggulan
Tim peneliti cabai dari Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor tengah mempebanyak benih cabai hibrida jenis IPB CH3, salah satu cabai ungulan temuan mereka yang sudah diizinkan pemerintah untuk dirilis ke publik s
Tim peneliti cabai dari Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor tengah mempebanyak benih cabai hibrida jenis IPB CH3, salah satu cabai ungulan temuan mereka yang sudah diizinkan pemerintah untuk dirilis ke publik sejak Oktober 2010. Mereka juga tengah meneliti untuk menemukan jenis cabai ungulan baru non-hibrida.
"Kebutuhan cabai dari tahun ke tahun akan bertambah terus, seiring pertumbuhan penduduk dan pola masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi cabai dalam bentuk segar, serta menjadikan nasi dan sambal sebagai benteng terakhir ketahanan pangannya. Sehingga dibutuhkan cabai-cabai unggulan untuk memenuhi kebutuhan akan cabai," kata Dr M Syukur, dosen dari Departemen Agronomi dan Holtikutura IPB, di Bogor, Senin (10/1/2011).
Ia dan empat koleganya, Prof Dr Sriani Sujiprihati, Dr Rahmi, Dr Widodo, dan Dr Hendrastuti, melakukan penelitian tumbuhan cabai sejak tahun 2003. Ada 11 jenis cabai ungulan temuan tim tersebut, dimana empat jenis dalam proses izin rilis ke publik dari pemerintah dan satu jenis, yakni IPB CH 3, sudah mendapat izin resmi dirilis.
"Sampai saat ini kami terus memperbanyak benih cabai-cabai ungulan temuan kami ini. Sebab, tugas kami sebagai peneliti adalah memperbanyak benih untuk keperluan akademik. Kami juga sebagai peneliti siap melatih untuk mereka yang berminat membuat benih IPB CH 3 sendiri. Apakah untuk itu masyarakat harus membeli atau membayar, bukan urusan kami. Itu pihak perguruan yang menentukan," kata Sriani.
Syukur menjelaskan, IPB CH 3 adalah jenis cabai hibrida. Keunggulannya, buah cabainya besar dengan panjang 14 cm sampai 17 cm dan rasa pedasnya dua kali lipat dari cabai besar merah biasa. Dengan masa berbunga untuk berbuah kurang dari tiga bulan. Satu pohonnya menghasilkan satu kilogram buah, atau sekitar 15 ton per hektar.
Karena IPB CH 3 adalah jenis cabai hibrida, biji cabai yang dihasilkannya dari jenis ini, tidak dapat atau kurang bagus untuk dijadikan benih lagi. Untuk mendapat biji untuk benih, harus dilakukan pengawinan dari dua jenis cabai yang menghasilkan cabai dengan jenis IPB CH 3.
Itu sebabnya, lanjut Sriani, IPB tengah mengembangkan penelitian cabai non hibrida juga. Ia berharap tahun ini juga, dapat ditemukan cabai unggulan non-hibrida. Sehingga, ketika petani cukup sekali membeli bibit atau benih cabai itu, untuk seterusnya petani yang bersangkutan dapat membuat sendiri bibit dari buah cabai dari pohon miliknya.
"Kalau cabai hibrida, memang harus ada perusahaan khusus yang memproduksi bibitnya. Dan, kemungkinan harganya dapat mahal, bergantung pada produsernya. Petani dalam hal ini mungkin menjadi plasma dari perusahaan yang membutuhkan komoditi cabai dalam jumlah besar," kata Sriani.
Sumber: KCM
Tim peneliti cabai dari Departemen Agronomi dan Holtikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor tengah mempebanyak benih cabai hibrida jenis IPB CH3, salah satu cabai ungulan temuan mereka yang sudah diizinkan pemerintah untuk dirilis ke publik sejak Oktober 2010. Mereka juga tengah meneliti untuk menemukan jenis cabai ungulan baru non-hibrida.
"Kebutuhan cabai dari tahun ke tahun akan bertambah terus, seiring pertumbuhan penduduk dan pola masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi cabai dalam bentuk segar, serta menjadikan nasi dan sambal sebagai benteng terakhir ketahanan pangannya. Sehingga dibutuhkan cabai-cabai unggulan untuk memenuhi kebutuhan akan cabai," kata Dr M Syukur, dosen dari Departemen Agronomi dan Holtikutura IPB, di Bogor, Senin (10/1/2011).
Ia dan empat koleganya, Prof Dr Sriani Sujiprihati, Dr Rahmi, Dr Widodo, dan Dr Hendrastuti, melakukan penelitian tumbuhan cabai sejak tahun 2003. Ada 11 jenis cabai ungulan temuan tim tersebut, dimana empat jenis dalam proses izin rilis ke publik dari pemerintah dan satu jenis, yakni IPB CH 3, sudah mendapat izin resmi dirilis.
"Sampai saat ini kami terus memperbanyak benih cabai-cabai ungulan temuan kami ini. Sebab, tugas kami sebagai peneliti adalah memperbanyak benih untuk keperluan akademik. Kami juga sebagai peneliti siap melatih untuk mereka yang berminat membuat benih IPB CH 3 sendiri. Apakah untuk itu masyarakat harus membeli atau membayar, bukan urusan kami. Itu pihak perguruan yang menentukan," kata Sriani.
Syukur menjelaskan, IPB CH 3 adalah jenis cabai hibrida. Keunggulannya, buah cabainya besar dengan panjang 14 cm sampai 17 cm dan rasa pedasnya dua kali lipat dari cabai besar merah biasa. Dengan masa berbunga untuk berbuah kurang dari tiga bulan. Satu pohonnya menghasilkan satu kilogram buah, atau sekitar 15 ton per hektar.
Karena IPB CH 3 adalah jenis cabai hibrida, biji cabai yang dihasilkannya dari jenis ini, tidak dapat atau kurang bagus untuk dijadikan benih lagi. Untuk mendapat biji untuk benih, harus dilakukan pengawinan dari dua jenis cabai yang menghasilkan cabai dengan jenis IPB CH 3.
Itu sebabnya, lanjut Sriani, IPB tengah mengembangkan penelitian cabai non hibrida juga. Ia berharap tahun ini juga, dapat ditemukan cabai unggulan non-hibrida. Sehingga, ketika petani cukup sekali membeli bibit atau benih cabai itu, untuk seterusnya petani yang bersangkutan dapat membuat sendiri bibit dari buah cabai dari pohon miliknya.
"Kalau cabai hibrida, memang harus ada perusahaan khusus yang memproduksi bibitnya. Dan, kemungkinan harganya dapat mahal, bergantung pada produsernya. Petani dalam hal ini mungkin menjadi plasma dari perusahaan yang membutuhkan komoditi cabai dalam jumlah besar," kata Sriani.
Sumber: KCM
Sepotong Mangga, Kaya Rasa
Meskipun bukan buah asli Indonesia, tetapi keberadaan mangga yang tersebar luas di penjuru Nusantara membuatnya populer sebagai salah satu buah tropis kebanggaan kita.
Meskipun bukan buah asli Indonesia, tetapi keberadaan mangga yang tersebar luas di penjuru Nusantara membuatnya populer sebagai salah satu buah tropis kebanggaan kita.
Aslinya, mangga berasal dari India. Di sana, mangga telah dibudidaya sejak lebih dari 6.000 tahun lalu. Berdasarkan cerita lisan di India, mangga merupakan penjelmaan dari Dewa Prajapati (Tuhan, atau pelindung hidup manusia). Istilah mangga sendiri berasal dari Bahasa Tamil, mangkay atau mangas.
Selain kelezatannya, mangga menjadi demikian populer karena mengandung antioksidan yang dapat menetralisasi radikal bebas. Tak hanya itu, mangga mengandung zat besi tinggi yang baik bagi pengidap anemia. Mangga juga dapat dikonsumsi untuk memperbaiki masalah pencernaan karena mengandung enzim yang membantu mencerna protein.
Untuk menghargai varietas mangga di Indonesia, kali ini kami tampilkan beberapa jenis mangga beserta karakteristik khasnya. Selain nama, gunakan aroma, rasa, dan tekstur sebagai patokan untuk membedakan varietas mangga. Mulai dari masam ke harum, kecut ke manis, hingga lembut ke renyah.
Apel Australia. Daging buahnya lembut, bahkan hampir tidak berserat sama sekali. Namun, berbeda dengan jenis mangga apel Indonesia yang manis, jenis ini terasa hambar, meski sudah masak sekalipun.
Arumanis. Bentuknya bulat panjang, sedikit berparuh, dengan ujung meruncing. Pangkal buahnya merah keunguan, sedangkan bagian lainnya hijau. Kulitnya tipis tetapi berlapis lilin. Daging buahnya tebal, berwarna kuning mulus, lunak, tidak berserat, dan tidak terlalu banyak mengandung air. Saat masak, rasa arumanis kadang-kadang meninggalkan aroma nanas di ujung lidah.
Podang lumut. Salah satu hasil utama Kediri, Jawa Timur, ini memiliki warna kulit kuning kehijauan, dengan rasa manis-agam masam. Selain enak disantap segar, mangga podang banyak diolah menjadi pure, sirup, dodol, jeli, manisan, dan keripik.
Budiraja. Di daerah asalnya, Jawa Timur, nama mangga ini hanya Raja. Tidak pakai Budi. Namun, di supermarket besar di Indonesia, entah mengapa namanya berubah menjadi Budiraja. Mangga ini memiliki tektur daging buah yang lembut dan aroma yang harum, dengan sari buah sangat banyak.
Golek. Panjang buah dapat mencapai 30 cm dengan bentuk pipih agak melengkung. Aroma dan rasanya tidaklah setajam arumanis atau gedong gincu. Kulit buahnya hijau muda dan akan berubah menjadi kuning kemerahan saat masak.
Bunder. Bentuknya bulat kecil seperti mangga apel. Namun, rasanya tidak semanis itu. Bunder termasuk mangga berserat halus dengan rasa manis cenderung masam. Biasanya, bunder menjadi salah satu buah pelengkap rujak.
Bapang. Bapang sering diolah menjadi campuran sambal. Entah itu saat masih muda atau ketika masak. Fisik buahnya memang menggemaskan; mengkal tetapi ranum. Rasanya manis, cenderung masam dengan air buah banyak.
Kuweni. Kuweni belum pernah ditemukan tumbuh liar di Indonesia. Ini merupakan hibrida antarspesifik alami, antara mangga dan bacang, yang memiliki aroma harum dan tajam, seperti terpentin (minyak untuk mengencerkan cat). Daging buahnya lembut, memiliki konsistensi lebih padat daripada bacang, dan berserat lebih halus. Kulitnya hijau sampai kekuningan, dengan bintik-bintik lentisel berwarna kecoklatan. Kulit buahnya tebal, 3-4 mm, dengan daging kuning sampai agak jingga. Rasanya manis-asam.
Harum bali. Mirip arumanis probolinggo, tetapi varietas ini berkulit lebih tebal -tetap dengan lapisan lilin. Daging buahnya tebal, sekitar 3 mm, berwarna kuning mulus, dan agak kering. Rasanya perpaduan antara arumanis dengan indramayu.
Kopyor. Dinamakan demikian karena bentuk pangkal buahnya mirip dengan kopyor. Saat masak, daging buahnya berwarna kuning terang, berserat kasar, dan berair, dengan aroma terpentin serta rasa manis sedikit masam.
Gedung gincu. Bentuk buahnya bulat, sedang, dengan warna kulit kuning merah-keunguan. Saat matang, daging buahnya berwarna kuning cerah dengan rasa manis legit, disertai bau harum. Mangga gedong gincu merupakan "trademark" dari Cirebon, Jawa Barat.
Manalagi. Secara fisik, bentuk mangga ini lebih kecil dibandingkan arumanis atau golek. Warna kulitnya hijau cerah dengan bintik-bintik putih. Rasanya sangat manis, bahkan saat belum terlalu masak sekalipun. Saat masak, warna kulitnya akan berubah hijau tua dengan warna daging buah putih kekuningan hingga oranye.
Indramayu. Berukuran besar dan memiliki serat yang rapat. Saat matang, rasa mangga indramayu manis dan kering, sehingga terasa gurih di mulut.
Aslinya, mangga berasal dari India. Di sana, mangga telah dibudidaya sejak lebih dari 6.000 tahun lalu. Berdasarkan cerita lisan di India, mangga merupakan penjelmaan dari Dewa Prajapati (Tuhan, atau pelindung hidup manusia). Istilah mangga sendiri berasal dari Bahasa Tamil, mangkay atau mangas.
Selain kelezatannya, mangga menjadi demikian populer karena mengandung antioksidan yang dapat menetralisasi radikal bebas. Tak hanya itu, mangga mengandung zat besi tinggi yang baik bagi pengidap anemia. Mangga juga dapat dikonsumsi untuk memperbaiki masalah pencernaan karena mengandung enzim yang membantu mencerna protein.
Untuk menghargai varietas mangga di Indonesia, kali ini kami tampilkan beberapa jenis mangga beserta karakteristik khasnya. Selain nama, gunakan aroma, rasa, dan tekstur sebagai patokan untuk membedakan varietas mangga. Mulai dari masam ke harum, kecut ke manis, hingga lembut ke renyah.
Apel Australia. Daging buahnya lembut, bahkan hampir tidak berserat sama sekali. Namun, berbeda dengan jenis mangga apel Indonesia yang manis, jenis ini terasa hambar, meski sudah masak sekalipun.
Arumanis. Bentuknya bulat panjang, sedikit berparuh, dengan ujung meruncing. Pangkal buahnya merah keunguan, sedangkan bagian lainnya hijau. Kulitnya tipis tetapi berlapis lilin. Daging buahnya tebal, berwarna kuning mulus, lunak, tidak berserat, dan tidak terlalu banyak mengandung air. Saat masak, rasa arumanis kadang-kadang meninggalkan aroma nanas di ujung lidah.
Podang lumut. Salah satu hasil utama Kediri, Jawa Timur, ini memiliki warna kulit kuning kehijauan, dengan rasa manis-agam masam. Selain enak disantap segar, mangga podang banyak diolah menjadi pure, sirup, dodol, jeli, manisan, dan keripik.
Budiraja. Di daerah asalnya, Jawa Timur, nama mangga ini hanya Raja. Tidak pakai Budi. Namun, di supermarket besar di Indonesia, entah mengapa namanya berubah menjadi Budiraja. Mangga ini memiliki tektur daging buah yang lembut dan aroma yang harum, dengan sari buah sangat banyak.
Golek. Panjang buah dapat mencapai 30 cm dengan bentuk pipih agak melengkung. Aroma dan rasanya tidaklah setajam arumanis atau gedong gincu. Kulit buahnya hijau muda dan akan berubah menjadi kuning kemerahan saat masak.
Bunder. Bentuknya bulat kecil seperti mangga apel. Namun, rasanya tidak semanis itu. Bunder termasuk mangga berserat halus dengan rasa manis cenderung masam. Biasanya, bunder menjadi salah satu buah pelengkap rujak.
Bapang. Bapang sering diolah menjadi campuran sambal. Entah itu saat masih muda atau ketika masak. Fisik buahnya memang menggemaskan; mengkal tetapi ranum. Rasanya manis, cenderung masam dengan air buah banyak.
Kuweni. Kuweni belum pernah ditemukan tumbuh liar di Indonesia. Ini merupakan hibrida antarspesifik alami, antara mangga dan bacang, yang memiliki aroma harum dan tajam, seperti terpentin (minyak untuk mengencerkan cat). Daging buahnya lembut, memiliki konsistensi lebih padat daripada bacang, dan berserat lebih halus. Kulitnya hijau sampai kekuningan, dengan bintik-bintik lentisel berwarna kecoklatan. Kulit buahnya tebal, 3-4 mm, dengan daging kuning sampai agak jingga. Rasanya manis-asam.
Harum bali. Mirip arumanis probolinggo, tetapi varietas ini berkulit lebih tebal -tetap dengan lapisan lilin. Daging buahnya tebal, sekitar 3 mm, berwarna kuning mulus, dan agak kering. Rasanya perpaduan antara arumanis dengan indramayu.
Kopyor. Dinamakan demikian karena bentuk pangkal buahnya mirip dengan kopyor. Saat masak, daging buahnya berwarna kuning terang, berserat kasar, dan berair, dengan aroma terpentin serta rasa manis sedikit masam.
Gedung gincu. Bentuk buahnya bulat, sedang, dengan warna kulit kuning merah-keunguan. Saat matang, daging buahnya berwarna kuning cerah dengan rasa manis legit, disertai bau harum. Mangga gedong gincu merupakan "trademark" dari Cirebon, Jawa Barat.
Manalagi. Secara fisik, bentuk mangga ini lebih kecil dibandingkan arumanis atau golek. Warna kulitnya hijau cerah dengan bintik-bintik putih. Rasanya sangat manis, bahkan saat belum terlalu masak sekalipun. Saat masak, warna kulitnya akan berubah hijau tua dengan warna daging buah putih kekuningan hingga oranye.
Indramayu. Berukuran besar dan memiliki serat yang rapat. Saat matang, rasa mangga indramayu manis dan kering, sehingga terasa gurih di mulut.
Sumber: (KCM/Fifi Juliana Jelita)
Selasa, 17 Januari 2012
Dahlan: pabrik gula baiknya punya kebun sendiri
Dahlan: pabrik gula baiknya punya kebun sendiri
Jumat, 13 Januari 2012 10:52 WIB | 2069
Views
"Tiap pabrik gula sebaiknya punya kebun tebu sendiri, meski tidak seluruhnya," kata Dahlan di sela-sela kunjungan di Banaran Resort, di Kabupaten Semarang, Jumat.
Pernyataan Dahlan tersebut untuk menanggapi keluhan yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo tentang kondisi delapan pabrik gula di provinsi ini yang perlu direvitalisasi.
Menurut Dahlan, jika satu pabrik gula minimal membutuhkan 5.000 hektare lahan untuk produksi, maka kebutahan sekitar seribu hektare di antaranya sudah tersedia.
Ia menuturkan, mekanisme ini sebagai upaya untuk mengantisipasi persaingan dengan komoditas lain yang ditanam oleh petani.
"Petani masih berpikir menanam padi lebih menguntungkan dibanding tebu," katanya.
Selain itu, lanjut dia, upaya ini juga sebagai bentuk pembinaan petani dalam menanam tebu.
"Selama ini, petani masih salah sangka tentang penilaian kualitas tebu untuk bahan baku gula," katanya.
Dengan demikian, lanjut dia, penyelesaian masalah pabrik gula bukan selalu soal teknologi.
"Masalah ini harus diselesaikan secara parsial, bukan melulu masalah teknologi," katanya.
Sebelumnya, Gubernur Bibit Waluyo menyampaikan bahwa delapan pabrik gula di Jawa Tengah masih memiliki mesin yang usia tua.
Kondisi tersebut dikhawatirkan tidak mampu mendukung target swasembada gula di Jawa Tengah pada 2013 mendatang.
(ANT)
Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT ©
2012
Ikuti berita terkini di
handphone anda di m.antaranews.com
Sabtu, 14 Januari 2012
Enam orang ditetapkan peneliti terbaik IPB 2011
Bogor (ANTARA News)
- Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut
Pertanian Bogor menetapkan enam orang dosen menjadi peneliti terbaik di
perguruan tinggi itu pada 2011.
Menurut keterangan Humas IPB di Bogor, Selasa, pemilihan peneliti terbaik untuk masing-masing bidang di tingkat IPB tahun 2011 itu dilaksanakan bersamaan pada penutupan "Seminar Hasil-Hasil Penelitian IPB Tahun 2011" yang dilaksanakan pada 12-13 Desember lalu.
Peneliti terbaik itu adalah Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, M.Sc, Dr Ir Ratih Dewanti Hariyadi, M.Sc, Prof Dr Ir Marimin, M.Sc, Prof Dr Ir Armansyah H Tambunan, Dr Utut Widyastuti, dan Dr Ki Agus Dahlan.
Masing-masing terpilih untuk bidang pangan, kesehatan, sosial, ekonomi dan budaya, energi, sumberdaya alam dan lingkungan, serta teknologi dan rekayasa.
Disebutkan bahwa sebelum acara ditutup oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerja sama IPB Prof Dr Anas Miftah Fauzi, terlebih dahulu diawali dengan dialog interaktif.
Pada dialog interaktif itu menghadirkan sejumlah narasumber yakni Asisten Deputi Produktivitas Iptek Masyarakat Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Drs Anwar Darwadi.
Selain itu, dalam dialog yang dipandu Wakil Kepala LPPM Bidang Penelitian Prof Dr Ronny Rachman M Noor itu, juga tampil Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Balitbang Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Dr Astu Unadi, dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB Prof Dr Bambang Pramudya.
Pada "Seminar Hasil-hasil Penelitian IPB Tahun 2011" di Auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB Kampus IPB Dramaga Bogor itu, dipaparkan sekurangnya 225 judul penelitian.
(ANT-053/Y006)
Menurut keterangan Humas IPB di Bogor, Selasa, pemilihan peneliti terbaik untuk masing-masing bidang di tingkat IPB tahun 2011 itu dilaksanakan bersamaan pada penutupan "Seminar Hasil-Hasil Penelitian IPB Tahun 2011" yang dilaksanakan pada 12-13 Desember lalu.
Peneliti terbaik itu adalah Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, M.Sc, Dr Ir Ratih Dewanti Hariyadi, M.Sc, Prof Dr Ir Marimin, M.Sc, Prof Dr Ir Armansyah H Tambunan, Dr Utut Widyastuti, dan Dr Ki Agus Dahlan.
Masing-masing terpilih untuk bidang pangan, kesehatan, sosial, ekonomi dan budaya, energi, sumberdaya alam dan lingkungan, serta teknologi dan rekayasa.
Disebutkan bahwa sebelum acara ditutup oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerja sama IPB Prof Dr Anas Miftah Fauzi, terlebih dahulu diawali dengan dialog interaktif.
Pada dialog interaktif itu menghadirkan sejumlah narasumber yakni Asisten Deputi Produktivitas Iptek Masyarakat Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Drs Anwar Darwadi.
Selain itu, dalam dialog yang dipandu Wakil Kepala LPPM Bidang Penelitian Prof Dr Ronny Rachman M Noor itu, juga tampil Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Balitbang Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Dr Astu Unadi, dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB Prof Dr Bambang Pramudya.
Pada "Seminar Hasil-hasil Penelitian IPB Tahun 2011" di Auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB Kampus IPB Dramaga Bogor itu, dipaparkan sekurangnya 225 judul penelitian.
(ANT-053/Y006)
Editor: Ruslan
Burhani
Ikuti
berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com
IPB canangkan lima riset unggulan pada 2012
Bogor (ANTARA News) - Institut Pertanian Bogor (IPB) menyambut
2012 dengan pencanangan lima riset unggulan, yang diharapkan dapat
mewujudkan motto "Mencari dan Memberi yang Terbaik", serta memperkuat
peran dalam pembangunan bangsa.
"Pada 2012, kami berharap dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas riset sebagai komitmen partisipasi IPB dalam pembangunan bangsa," ujar Prof Herry Suhardiyanto MSc pada Diskusi Akhir Tahun IPB di IICC Kota Bogor, Jumat.
Diskusi refleksi akhir tahun tersebut dihadiri seluruh pucuk pimpinan IPB. Selain dihadiri Rektor Prof Herry Suhardiyanto, hadir pula empat wakil rektor, Ketua Majelis Wali Amanat Prof Dr Didik J. Rachbini, Ketua Dewan Guru Besar Prof Dr Endang Suhendang, Sekretaris Senat Akademik Prof Dr Suryo Adiwibowo, serta para dekan.
Diskusi ini mengangkat tema "Aktualisasi Peran IPB dalam Implementasi Paradigma Baru Pembangunan yang Berkedaulatan, Berkeadilan, dan Berkelanjutan".
Menurut Prof Herry Suhardiyanto, pihaknya telah menetapkan lima isu sebagai prioritas bagi dosen dan mahasiswa IPB dalam melakukan riset ke depan.
Kelima isu tersebut, lanjut Prof Herry Suhardiyanto, yaitu pangan, energi, ekologi dan lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan biomedis.
Prof Herry mengutarakan, penguatan lima isu dalam penelitian IPB ke depan diharapkan dapat memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, baik pada bidang pertanian maupun bidang-bidang lainnya.
"Sangat penting bagi Indonesia untuk melakukan reorientasi paradigma dan strategi pembangunan yang dapat mendukung penguatan sektor pertanian, yang masih menjadi tumpuan hidup sebagian masyarakat," tegasnya.
Merujuk pada catatan IPB, hingga 2011, dari total angkatan kerja sebanyak 109 juta jiwa, 39,33 juta diantaranta masih bergantung pada sektor pertanian alias sekitar 37 persen.
Sementara itu sektor yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi dari sektor pertanian dan berkontribusi besar terhadap PDB (sektor industri dengan share terhadap PDB hampir 30 persen) ternyata hanya mampu menyerap 12,5 persen angkatan kerja yang ada.
"Tahun-tahun mendatang merupakan momentum yang sangat penting dalam menentukan perjalanan bangsa. Strategi pembangunan yang berbasis pada sumberdaya alam terbarukan, dimana pertanian menjadi pilar pokoknya masih sangat diharapkan peran signifikannya," demikian Prof Herry menjelaskan.
(ANT-053/M027)
"Pada 2012, kami berharap dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas riset sebagai komitmen partisipasi IPB dalam pembangunan bangsa," ujar Prof Herry Suhardiyanto MSc pada Diskusi Akhir Tahun IPB di IICC Kota Bogor, Jumat.
Diskusi refleksi akhir tahun tersebut dihadiri seluruh pucuk pimpinan IPB. Selain dihadiri Rektor Prof Herry Suhardiyanto, hadir pula empat wakil rektor, Ketua Majelis Wali Amanat Prof Dr Didik J. Rachbini, Ketua Dewan Guru Besar Prof Dr Endang Suhendang, Sekretaris Senat Akademik Prof Dr Suryo Adiwibowo, serta para dekan.
Diskusi ini mengangkat tema "Aktualisasi Peran IPB dalam Implementasi Paradigma Baru Pembangunan yang Berkedaulatan, Berkeadilan, dan Berkelanjutan".
Menurut Prof Herry Suhardiyanto, pihaknya telah menetapkan lima isu sebagai prioritas bagi dosen dan mahasiswa IPB dalam melakukan riset ke depan.
Kelima isu tersebut, lanjut Prof Herry Suhardiyanto, yaitu pangan, energi, ekologi dan lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan biomedis.
Prof Herry mengutarakan, penguatan lima isu dalam penelitian IPB ke depan diharapkan dapat memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, baik pada bidang pertanian maupun bidang-bidang lainnya.
"Sangat penting bagi Indonesia untuk melakukan reorientasi paradigma dan strategi pembangunan yang dapat mendukung penguatan sektor pertanian, yang masih menjadi tumpuan hidup sebagian masyarakat," tegasnya.
Merujuk pada catatan IPB, hingga 2011, dari total angkatan kerja sebanyak 109 juta jiwa, 39,33 juta diantaranta masih bergantung pada sektor pertanian alias sekitar 37 persen.
Sementara itu sektor yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi dari sektor pertanian dan berkontribusi besar terhadap PDB (sektor industri dengan share terhadap PDB hampir 30 persen) ternyata hanya mampu menyerap 12,5 persen angkatan kerja yang ada.
"Tahun-tahun mendatang merupakan momentum yang sangat penting dalam menentukan perjalanan bangsa. Strategi pembangunan yang berbasis pada sumberdaya alam terbarukan, dimana pertanian menjadi pilar pokoknya masih sangat diharapkan peran signifikannya," demikian Prof Herry menjelaskan.
(ANT-053/M027)
Editor:
Ruslan Burhani
Ikuti berita
terkini di handphone anda di m.antaranews.com
Berdayakan Petani Jamin Ketahanan Pangan Nasional
Berbicara tentang kebijakan pemerintah, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi bahaya krisis pangan. Yang paling utama adalah dengan meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk semakin memantapkan ketahanan pangan di bumi Indonesia.
Latar Belakang Masalah
Di negara kita, kesulitan dalam penyeimbangan neraca pangan sudah dialami sebelum awal krisis moneter terjadi pada pertengahan tahun 1997. Bahkan, pemenuhan kebutuhan beras yang pernah diatasi secara swasembada pada tahun 1986, sampai saat sekarang ini ternyata tidak dapat dipertahankan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 1999[1] kita telah mengimpor beras sebanyak 1.8 juta ton pada tahun 1995; 2.1 juta ton pada tahun 1996; 0.3 juta ton pada tahun 1997; 2.8 juta ton pada tahun 1998; 4.7 juta ton pada tahun 1999. Di awal tahun 2000 kita bahkan dibanjiri dengan beras impor yang diberitakan ilegal, sedangkan di awal tahun 2006 kita diramaikan dengan keputusan pemerintah untuk mengimpor beras, yang dianggap tidak berpihak kepada petani meskipun hal itu bukan merupakan issue baru dan disadari pula bahwa petani kita pun merupakan konsumen beras. Bahkan, pada tahun ini kita dirisaukan dengan impor benih padi yang konon tidak berjalan mulus pula sampai ke tangan petani, padahal hasilnya diharapkan dapat mendongkrak produksi beras.
Ketahanan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun. Dalam hal inilah, petani memiliki kedudukan strategis dalam ketahanan pangan : petani adalah produsen pangan dan petani adalah juga sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk membeli pangan. Petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Disinilah perlu sekali peranan pemerintah dalam melakukan pemberdayaan petani.
Kesejahteraan petani pangan yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan prospek ketahanan pangan nasional. Kesejahteraan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor dan keterbatasan, diantaranya yang utama adalah :
a. Sebagian petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali tenaga kerjanya (they are poor becouse they are poor) , dalam hal ini keterbatasan sumber daya manusia yang ada (rendahnya kualitas pendidikan yang dimiliki petani pada umumnya) menjadi masalah yang cukup rumit, disisi lain kemiskinan yang structural menjadikan akses petani terhadap pendidikan sangat minim.
b. Luas lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi. Pada umumnya petani di Indonesia rata-rata hanya memiliki tanah kurang dari 1/3 hektar, jika dilihat dari sisi produksi tentu saja dengan luas tanah semacam ini tidak dapat di gunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari bagi petani.
c. Terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan , ketersediaan modal perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah pada umumnya permasalahan yang paling mendasar yang dialami oleh petani adalah keterbatasan modal baik balam penyediaan pupuk atau benih.
d. Tidak adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik . petani di indonesia kebanyakan masih mengolah tanah dengan cara tradisional hanya sebagaian kecil saja yang sudah menggunakan teknologi canggih.tentu saja dari hasil aproduksinya sangat terbatas dan tidak bisa maksimal.
e. Infrastruktur produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang tidak memadai . pertanian di indonesia mayoritas masih berada di wilayah pedesaan sehingga akses untuk mendapatkan sarana dan prasarana penunjang seperti air, listrik , kondisi jalan yang bagus dan telekomunikasi sangat terbatas
f. Struktur pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar (bargaining position) yang sangat lemah .
g. Ketidak-mampuan, kelemahan, atau ketidak-tahuan petani sendiri.
Tanpa menyelesaian yang mendasar dan komprehensif dalam berbagai aspek diatas kesejahteraan petani akan terancam dan ketahanan pangan akan sangat sulit dicapai. Maka disinilah peranan pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah harus dijadikan sebagai pernhatian utama demi terwujudnya ketahanan pangan karena ketahanan pangan dapat terwujud dengan baik jika pengelolaanya dikelola mulai dari tataran mikro (mulai dari rumah tangga), jika akses masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan pangan sudah baik maka ketahanan pangan di tataran makro sudah pasti secara otomatis akan dapat terwujud.
Analisis Masalah
Pembangunan ketahanan pangan pada hakekatnya adalah pemberdayaan masyarakat, yang berarti meningkatkan kemandirian dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam mewujudkan ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan dari waktu ke waktu. Masyarakat yang terlibat dalam pembangunan ketahanan pangan meliputi produsen, pengusaha, konsumen, aparatur pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat.
Mengingat luasnya substansi dan banyaknya pelaku yang terlibat dalam pengembangan sistem ketahanan pangan, maka kerja sama yang sinergis dan terarah antar institusi dan komponen masyarakat sangat diperlukan. Pemantapan ketahanan pangan hanya dapat diwujudkan melalui suatu kerja sama yang kolektif dari seluruh pihak yang terkait (stakeholders), khususnya masyarakat produsen (petani), pengolah, pemasar dan konsumen pangan dan pemerintah.
Pengadaan pangan bagi bangsa Indonesia hingga saat ini memang masih mengkhawatirkan. Padahal, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan telah memberikan arahan bagaimana kita harus mencapai ketahanan pangan bagi bangsa Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 mengatakan,bahwa Ketahanan pangan diwujudkan bersama oleh masyarakat dan pemerintah dan dikembangkan mulai tingkat rumah tangga. Apabila setiap rumah tangga Indonesia sudah mencapai tahapan ketahanan pangan, maka secara otomatis ketahanan pangan masyarakat, daerah dan nasional akan tercapai. Dengan demikian, arah pengembangan ketahanan pangan berawal dari rumah tangga, masyarakat, daerah dan kemandirian nasional bukan mengikuti proses sebaliknya.
Karena fokusnya pada rumah tangga, maka yang menjadi kegiatan prioritas dalam pembangunan ketahanan pangan adalah pemberdayaan masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri dalam mewujudkan ketahanan pangan. Pemberdayaan masyarakat tersebut diupayakan melalui peningkatan kapasitas SDM agar dapat secara bersaing memasuki pasar tenaga kerja dan kesempatan berusaha yang dapat menciptakan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Proses pemberdayaan tersebut tidak lagi menganut pola serapan, tetapi didesentralisasikan sesuai potensi dan keragaman sumberdaya wilayah. Demikian pula kesempatan berusaha tidak harus selalu pada usahatani padi (karena dengan luas lahan sempit tidak mungkin dapat meningkatkan kesejahteraannya), tetapi juga pada usaha tani non padi perlu dikembangkan. Dalam kaitannya dengan itu, upaya peningkatan ketahanan pangan tidak perlu terfokus pada pengembangan pertanian (dalam arti primer), tetapi diarahkan pada sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi.
Dengan adanya peningkatan pendapatan, maka daya beli rumah tangga mengakses bahan pangan akan meningkat. Kemampuan membeli tersebut akan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk memilih (freedom to choose) pangan yang beragam untuk memenuhi kecukupan gizinya. Karena itu upaya pemantapan ketahanan pangan tidak dilakukan dengan menyediakan pangan murah, tetapi dengan meningkatkan daya beli.
Dalam konteks inilah maka membangun kemandirian pangan pada tingkat rumah tangga ditempuh dengan membangun kemampuan (daya beli) rumah tangga tersebut untuk memperoleh pangan (dari produksi sendiri ataupun dari pasar) yang cukup, bergizi, aman dan halal, untuk menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Dengan demikian menghasilkan sendiri kemampuan memperoleh peningkatan pendapatan (daya beli) secara berkelanjutan. Dalam kaitan ini, maka kebebasan mengatur perdagangan pangan di daerah tidak perlu dibatasi, tetapi didorong dan diarahkan agar memberi manfaat yang optimal bagi konsumen dan produsen pangan di daerah yang bersngkutan sehingga kemandirian pangan akan dapat diwujudkan.
Rekomendasi Kebijakan
Dapat kita lihat sampai sekarang ini program pemerintah dalam kaitanya dengan pembangunan ketahanan pangan masih belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pada umumnya, pembangunan ketahanan pangan yang ada masih bersifat pada tataran makro saja pemenuhan pangan pada tingkatan unit masyarakat terkecil masih terkesan terabaikan. Untuk mengatasi hal itu semua ada Berbagai upaya pemberdayaan untuk peningkatan kemandirian masyarakat khususnya pemberdayaan petani dapat dilakukan melalui :
Pertama, pemberdayaan dalam pengembangan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Hal ini dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan penyuluh dan peneliti. Teknologi yang dikembangkan harus berdasarkan spesifik lokasi yang mempunyai keunggulan dalam kesesuaian dengan ekosistem setempat dan memanfaatkan input yang tersedia di lokasi serta memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan teknologi ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan hasil kegiatan penelitian yang telah dilakukan para peneliti. Teknologi tersebut tentu yang benar-benar bisa dikerjakan petani di lapangan, sedangkan penguasaan teknologinya dapat dilakukan melalui penyuluhan dan penelitian. Dengan cara tersebut diharapkan akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan usahatani dan kesejahtraan petani.
Kedua, penyediaan fasilitas kepada masyarakat hendaknya tidak terbatas pebngadaan sarana produksi, tetapi dengan sarana pengembangan agribisnis lain yang diperlukan seperti informasi pasar, peningkatan akses terhadap pasar, permodalan serta pengembangan kerjasama kemitraan dengan lembaga usaha lain.
Dengan tersedianya berbagai fasilitas yang dibutuhkan petani tersebut diharapkan selain para petani dapat berusaha tani dengan baik juga ada kepastian pemasaran hasil dengan harga yang menguntungkan, sehingga selain ada peningkatan kesejahteraan petani juga timbul kegairahan dalam mengembangkan usahatani.
Ketiga, Revitalitasasi kelembagaan dan sistem ketahanan pangan masyarakat. Hal ini bisa dilakukan melalui pengembangan lumbung pangan. Pemanfaatan potensi bahan pangan lokal dan peningkatan spesifik berdasarkan budaya lokal sesuai dengan perkembangan selera masyarakat yang dinamis.
Revitalisasi kelembagaan dan sistem ketahanan pangan masyarakat yang sangat urgen dilakukan sekarang adalah pengembnagan lumbung pangan, agar mampu memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap upaya mewujudkan ketahanan pangan. Untuk itu diperlukan upaya pembenahan lumbung pangan yangb tidak hanya dakam arti fisik lumbung, tetapi juga pengelolaannya agar mampu menjadi lembaga penggerak perekonomian di pedesaan.
Pemberdayaan petani untuk mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani seperti diuraikan diatas, hanya dapat dilakukan dengan mensinergikan semua unsur terkait dengan pembangunan pertanian. Untuk koordinasi antara instansi pemerintah dan masyarakat intensinya perlu ditingkatkan.
Di sisi lain berdasarkan pendekatan sistem pangan, strategi pencapaian ketahanan pangan juga dapat ditempuh melalui berbagai kebijakan di setiap subsistemnya, di antaranya sebagai berikut:
Subsistem konsumsi pangan
Di subsistem konsumsi (masyarakat konsumen) pangan, kebijakan peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat ditempuh dengan strategi penciptaan lapang kerja baru dan, khususnya oleh pemerintahan yang sekarang, pelaksanaan program subsidi langsung tunai (SLT) bagi rakyat yang miskin; kebijakan diversifikasi pangan dan perbaikan kebiasaan makan ditempuh melalui strategi pencarian komoditi pangan alternatif; kebijakan perbaikan/promosi kesehatan.ditempuh dengan strategi perbaikan gizi; kebijakan mutu pangan ditempuh melalui strategi penyelenggaraan sistem jaminan mutu pangan. Khusus mengenai strategi penciptaan lapangan kerja baru, kebijakan pemerintah dalam peningkatan keterampilan masyarakat untuk masuk di pasar kerja ditempuh dengan strategi pembangunan diklat. Namun, kebijakan makro ekonomi perlu mendukung hal ini, misalnya berupa kemudahan akses permodalan yang terbuka bagi para usahawan baru terhadap dana kredit dari bank. Kenyataan di lapang menunjukkan bahwa kebijakan Bank Indonesia untuk mencapai hal ini tidak selalu bersesuaian dengan kebijakan bank-bank umum di aspek yang sama. Dalam konteks penyediaan lapangan kerja, pemerintah kita juga memberikan kesempatan kepada kalangan generasi mudanya untuk bekerja di luar negeri.
Subsistem produksi pangan
Di subsistem produksi pangan stratum on farm, kebijakan intensifikasi pertanian yang diutamakan untuk produksi padi masih perlu dipertahankan karena status padi sebagai komoditi yang berimplikasi politis, yakni melalui strategi teknologi, ekonomi, rekayasa sosial, dan nilai tambah yang diterapkan dalam praktek produksi. Kebijakan ekstensifikasi pertanian ditempuh melalui strategi penetapan wilayah pengembangan dan pewilayahan pertanian. Dengan strategi ini dilakukan pembangunan lahan-lahan pertanian baru untuk produksi pangan, baik berupa lahan kering maupun lahan basah (sawah) yang dikaitkan dengan kegiatan transmigrasi. Dalam subsektor hortikultura, ditempuh strategi pembangunan, pemantapan, dan pengembangan sentra produksi buah-buahan unggulan yang dikaitkan dengan pembangunan kebun induknya. Kebijakan rehabilitasi pertanian ditempuh sejalan dengan strategi penetapan komoditi prioritas, yakni rehabilitasi jaringan irigasi sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi padi; rehabilitasi kebun bibit sebagai bagian dari strategi pengembangan buah-buahan prospektif. Kebijakan diversifikasi pertanian dilaksanakan melalui strategi diversifikasi horizontal dengan rekayasa sistem pertanian terpadu yang melibatkan usaha tani tanaman, ternak, dan atau ikan secara komplementer dan sinergis, sesuai dengan kondisi agroklimat lahannya.
Dalam stratum off-farm, kebijakan di subsistem produksi ditempuh melalui strategi pengembangan industri pertanian (agroindustri), khususnya teknologi pengolahan pangan yang dapat menghasilkan beragam produk yang dapat mendorong konsumen melaksanakan diversifikasi konsumsi pangan dan berdaya saing kuat di pasar global. Pengembangan industri pengolahan pangan tersebut juga akan menciptakan diversifikasi pertanian secara vertikal yang mampu memberikan nilai tambah bagi komoditi pertanian yang diusahakan.
Subsistem peredaran pangan
Di subsistem peredaran (pengadaan dan distribusi) pangan, kebijakan pengelolaan cadangan pangan dan stabilisasi harga pangan dijalankan khususnya untuk komoditi beras. Untuk komoditi ini, kebijakan pengelolaan cadangan pangan ditempuh dengan penerapan strategi pengendalian ekspor dan impor dan penetapan lama persediaan beras cadangan yang aman untuk ketahanan pangan. Kebijakan stabilisasi harga beras ditempuh, jika perlu, dengan strategi penetapan harga dasar gabah dan harga tertinggi dan intervensi pasar beras dengan mempertimbangkan harga beras di pasaran internasional. Kebijakan pengembangan pasar komoditi ditempuh dengan melaksanakan strategi penciptaan iklim usaha agribisnis yang kompetitif, dengan pengaturan tata niaganya yang tidak menghambat mekanisme pasar sempurna. Dalam konteks pencapaian mekanisme pasar sempurna, perlu pertimbangan yang memadai agar strategi untuk stabilisasi harga beras tidak mengganggu pengaturan tata niaganya tersebut.
Kesimpulan
Sistem pangan nasional harus dibangun menuju ketahanan pangan nasional yang berbasis pada penyediaan pangan di tingkat individu. Paradigma baru dalam pembangunan sistem pangan nasional ini akan menjamin ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, lokal, regional, dan nasional. Meskipun demikian, mengingat demikian kompleks permasalahan yang tercakup, ketahanan pangan di kelima jenjang itu hendaknya dibangun secara bersamaan.
Ketahanan pangan nasional bermakna pengadaan pangan nasional (yakni penyediaan pangan secara nasional), dan distribusi pangan nasional (yakni penyediaan pangan di setiap individu). Kedua makna ini menuntut adanya kebijakan pangan secara nasional yang dipegang wewenangnya oleh pemerintah pusat (yang berfungsi steering) dan kebijakan pangan secara regional, lokal, rumah tangga, dan individu yang dipegang wewenangnya oleh pemerintah daerah otonom (kabupaten/kota, yang berfungsi rowing).
Fungsi steering oleh pemerintah pusat berupa arah pembangunan ketahanan pangan sebagai komponen yang penting bagi kesejahteraan dan keutuhan bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, kelak diperlukan adanya evaluasi, apakah lembaga atau lembaga-lembaga tinggi negara yang kini ada telah cukup berhasil dengan efisien memantapkan ketahanan pangan, sebagaimana yang diharapkan, misalnya, oleh salah satu peran sektor pertaniannya dalam rangka revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan.
Fungsi rowing oleh pemerintah daerah otonom berupa keberlanjutan koordinasi antarlembaga terkait yang mendukung ketercapaian ketahanan pangan bagi setiap individu bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di daerah otonom tersebut. Dalam konteks ini, perlu dievaluasi pula, seberapa besar kebijakan pemerintah daerah dalam mendorong dan memfasilitasi sektor swasta untuk berperan dalam pembangunan ketahanan pangan bagi sesama bangsanya. @ admin
Dana Ketahanan Pangan 2011 Naik Jadi Rp 3 Triliun
Pemerintah akan menambahkan alokasi dana untuk ketahanan pangan dalam RAPBN 2011 hingga menjadi Rp 3 triliun. Anggaran tersebut berupa dana cadangan untuk diversifikasi pangan sebesar Rp 2 triliun dan dana cadangan pengadaan beras sebesar Rp 1 triliun.
Demikian disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa ketika ditemui di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, akhir tahun lalu.
“Dana anggaran di APBN 2011 itu sekitar Rp 2 triliun diversifikasi pangan dan untuk beras sendiri sekitar Rp 1 triliun jadi totalnya Rp 3 triliun. Dan memang yang Rp 2 triliun itu sebagai bagian untuk meningkatkan ketahanan pangan,” ujarnya.
Konteks ketahanan pangan menurut Hatta cukup luas, tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi saja. Ia menilai ketahanan pangan itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas pangan mulai dari pembenihan, pupuk dan masih banyak lagi.
“Kemudian juga untuk meningkatkan pendapatan petani serta segala hal yang menyangkut diversifikasi pangan,” tuturnya.
Hatta juga menambahkan, pemerintah akan melihat lebih jauh apakah nantinya pengadaan beras miskin ke daerah seperti Papua merupakan hal yang tepat.
“Karena ini merupakan bagian dari ketahanan pangan, kita lihat saja Pemda Papua mungkin berat mengangkat berasnya melalui udara ke gunung-gunung padahal masyarakat di gunung memakan ubi-ubian. Artinya ketahanan pangan itu juga mengembalikan pangan pokok masyarakat aslinya, itu seperti ubi, jagung kita dorong, silakan,” tuturnya.
Lebih jauh Hatta mengharapkan kepada Menteri pertanian untuk mendesain roadmap dari diversifikasi pangan sampai kepada masalah-masalah raskin.
“Misalkan daerah-daerah tertentu apakah butuh beras, atau diberikan dalam bentuk makanan pokoknya saja. Contohnya seperti tadi masyarakat di Papua daerah pegunungan itu, tentu dia tidak makan beras,” paparnya. @
Sumber: Detik / Foto: Kompas
12 Produk Pangan Lebih Mahal
Sebanyak 12 jenis komoditas pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dilaporkan meningkat harganya, tiga diantaranya melonjak di atas 90 persen. Harga cabe rawit antara Januari 2010 dengan Januari 2011 meningkat paling tinggi dibandingkan komoditas pangan lainnya, yakni 341,23 persen menjadi Rp 63.424 per kilogram atau kg.
Hal tersebut terungkap dalam Bahan Rapat Stabilisasi Pangan Pokok dan Program Perlindungan Sosial yang digelar dalam pertemuan gabungan antara Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa dengan Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Jakarta, pekan lalu.
Data yang disampaikan dalam rapat tersebut menunjukkan, harga beras umum antara Januari 2010 dengan Januari 2011 naik 22,74 persen menjadi Rp 9.200 per kg, sedangkan harga beras termurah juga dilaporkan naik 22,6 persen menjadi Rp 7.452 per kg.
Adapun harga minyak goreng umum antara Januari 2010 dengan Januari 2011 dilaporkan naik 14,71 persen menjadi Rp 11.707 per liter, sedangkan harga minyak goreng curah meningkat 6,8 persen menjadi Rp 11.466 per liter. Komoditas tempe juga tercatat lebih mahal 0,82 persen antara Januari 2010 dengan Januari 2011 menjadi Rp 8.554 per kg, sedangkan harga tahu pada periode yang sama dilaporkan lebih tinggi 2,8 persen menjadi Rp 7.471 per kg.
Pada kelompok daging, daging sapi dilaporkan meningkat 5,87 persen menjadi Rp 64.715 per kg antara Januari 2010 dengan Januari 2011. Adapun harga daging ayam meningkat 15,79 persen menjadi Rp 24.059 per kg pada periode yang sama.
Lonjakan harga sangat tinggi terjadi pada tiga komoditas terakhir. Pertama, cabe merah lebih mahal 115 persen menjadi Rp 44.692 per kg antara Januari 2010 dengan Januari 2011. Kedua, cabe rawit melonjak 314,23 persen menjadi Rp 63.424 per kg. Ketiga, harga bawang merah lebih mahal 99,53 persen menjadi Rp 25.048 per kg.
Hanya ada tiga komoditas pangan yang dilaporkan menurun harganya. Pertama, harga gula pasir yang menurun 2,27 persen antara Januari 2010 dengan Januari 2011 menjadi Rp 10.419 per kg. Kedua, tepung terigu yang lebih murah 0.63 persen menjadi Rp 7.563 per kg. Ketiga, kedelai yang menurun 2,62 persen menjadi Rp 8.473 per kg.
Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, untuk meredam dampak kenaikan harga komoditas pangan, pemerintah mempersiapkan aliran dana yang tidak boleh terhambat khusus untuk program perlindungan sosial. "Kalau perlu, kebutuhan dana bagi program perlidungan sosial tiga bulan pertama 2011 ini diberikan sekaligus, tidak bertahap setiap bulan seperti selama ini," ungkapnya.
Sumber: Kompas
Membuat Tepung dari Kulit Pisang
Tepung dari beras, ketela itu biasa. Tapi tepung dari kulit pisang itu baru luar biasa. Inilah cara membuatnya.
Kurangnya produksi bahan pangan seperti beras, tepung terigu, kedelai, minyak goreng dan gula di Kalimantan Barat, menyebabkan pedagang memasok sekitar 80 persen bahan pangan tersebut dari Pulau Jawa.
Transportasi pengangkutan lewat laut yang terhambat gelombang besar menyebabkan harga bahan pangan melonjak tinggi. Seperti harga tepung terigu dari Rp 6.500 per kilogram, naik menjadi Rp 7.000 per kilogram.
Ini mengakibatkan produk pangan dengan bahan dasar tepung, seperti mie harganya juga melonjak. Adanya pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi tepung dapat mensubstitusi tepung terigu sehingga harga tepung terigu yang mahal dapat diimbangi.
Kulit pisang mengandung vitamin C, vitamin B, kalsium, protein, dan juga lemak yang cukup (Sulffahri.2008). Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air yaitu 68,90 persen dan karbohidrat (zat pati) sebesar 18,50 persen.
Karena kulit pisang mengandung zat pati maka kulit pisang dapat diolah menjadi tepung. Berikut bagaimana membuat tepung dari kulit pisang seperti dilakukan oleh Leyla Noviagustin, Riin Sandra Yanti, dan Utin Febri Yantika, tiga mahasiswi Pendidikan Kimia Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat.
PILIH PISANG RAJA
Kulit pisang yang dipilih untuk diolah adalah kulit pisang raja karena mengandung kalsium (Ca) sebesar 10 mg. Selain itu kulit pisang raja lebih tebal dari kulit pisang lain (Sulfahri, 2008). Sehingga memiliki potensi pati yang cukup besar untuk diolah menjadi substituen tepung terigu.
Cara membuat tepung pisang mudah dan sederhana. Berikut ini cara membuat tepung pisang:
Bahan:
1. Pisang raja
2. Natrium tiosulfat (dapat dibeli di toko bahan kimia)
Alat:
1. Pisau
2. Perajang
3. Alat pengering
4. Alat penghancur atau penggiling
5. Ayakan atau saringan
Fungsi masing-masing peralatan:
1. Penggiling ukuran kecil untuk kapasitas satu kwintal atau lebih sesuai yang diinginkan. Penggilingan digunakan untuk menghancurkan potongan pisang menjadi tepung.
2. Pisau digunakan untuk memotong pisang menjadi ukuran kecil-kecil sebelum dilarutkan kedalam bahan natrium tiosulfat
3. Saringan/ayakan sebagai alat untuk menyaring/mengayak hasil tepung, guna mendapatkan tepung yang baik dan halus serta berkualitas.
4. Plastik yang lebar dan bersih sebagai alat untuk menaruh tepung pisang ketika dijemur agar supaya kering untuk memudahkan dalam proses penggilingannya.
5. Sinar matahari sangat diperlukan dalam proses pembuatan tepung pisang dalam proses pengeringan.
6. Plastik kemasan untuk membungkus tepung pisang telah jadi.
7. Plastik sealer, alat menutup kantong plastik.
Cara membuatnya:
1. Pisang yang telah tua dikupas kulitnya, dipisahkan daging buahnya.
2. Potong pisang kecil-kecil dengan ukuran kurang lebih 1 cm x 0,5 cm dengan pisau atau alat pengiris.
3. Rendam pisang dalam larutan natrium tiosulfat, setelah itu ditiriskan.
4. Keringkan potongan pisang. Pengeringan dengan sinar matahari perlu waktu kurang lebih dua hari. Jika menggunakan alat pengering gabah (dengan suhu 60 derajat celsius) proses pengeringan lebih cepat. Untuk mengeringkan dua kwintal pisang segar hanya perlu waktu 1 jam 20 menit.
5. Setelah kering atau kadar air kurang lebih 14 persen, potongan pisang dapat digiling/dihancurkan dengan menggunakan hammer mill atau ditumbuk.
6. Hasil penggilingan kemudian diayak.
7. Tepung pisang yang lolos dari ayakan dikemas dalam kantong plastik.
Penggunaan zat kimia Natrium tiosulfat bertujuan untuk menghambat terjadinya proses oksidasi pada kulit pisang, sehingga dapat mencegah timbulnya pencoklatan kulit pisang. Sehingga tepung yang dihasilkan akan lebih bersih. @ ken
Pertanian - Rembang
Siwalan
Sebagian wilayah Kabupaten Rembang termasuk kawasan pegunungan kapur,
sehingga tumbuh subur pohon siwalan di sejumlah daerah, sehingga
produksi buah siwalan dan air nira atau dikenal legen cukup melimpah.
Untuk mendapatkan buah legen yang tumbuh subur di daerah kapur tersebut, anda cukup datang ke Desa Landoh, Kecamatan Sulang, dengan jarak tempuh dari Kota Rembang ke arah Blora sekitar delapan kilometer.
Di sepanjang jalan banyak dijumpai pedagang yang menjajakkan minuman khas legen beserta buah siwalan dengan harga yang cukup murah. Cara penyimpanan legen tersebut juga cuku khas dengan menggunakan bambu.
Minuman yang disadap dari tangkur buah siwalan ini biasanya disajikan dengan es batu sebagai pelepas dahaga. Anda juga bisa meminumnya dengan ditemani makanan ringan atau aneka makanan gorengan.
Selain menyegarkan, ternyata ditemukan beberapa fakta bahwa legen bisa membantu kesehatan fungsi ginjal.
Jenis minuman yang diambil dari tangkur buah siwalan ini juga cocok dijadikan pelepas dahaga setelah menjalani ibadah puasa. Minuman ini juga bisa dikombinasikan dengan potongan buah siwalan yang disajikan dengan es batu seperti layaknya es kelapa muda.
Untuk mendapatkan buah legen yang tumbuh subur di daerah kapur tersebut, anda cukup datang ke Desa Landoh, Kecamatan Sulang, dengan jarak tempuh dari Kota Rembang ke arah Blora sekitar delapan kilometer.
Di sepanjang jalan banyak dijumpai pedagang yang menjajakkan minuman khas legen beserta buah siwalan dengan harga yang cukup murah. Cara penyimpanan legen tersebut juga cuku khas dengan menggunakan bambu.
Minuman yang disadap dari tangkur buah siwalan ini biasanya disajikan dengan es batu sebagai pelepas dahaga. Anda juga bisa meminumnya dengan ditemani makanan ringan atau aneka makanan gorengan.
Selain menyegarkan, ternyata ditemukan beberapa fakta bahwa legen bisa membantu kesehatan fungsi ginjal.
Jenis minuman yang diambil dari tangkur buah siwalan ini juga cocok dijadikan pelepas dahaga setelah menjalani ibadah puasa. Minuman ini juga bisa dikombinasikan dengan potongan buah siwalan yang disajikan dengan es batu seperti layaknya es kelapa muda.
Varitas Padi Unggulan Temuan Petani Cirebon
Kemampuan petani Indonesia tampaknya semakin mumpuni. Buktinya petani
asal Cirebon, Surono Danu, berhasil menemukan varitas benih padi baru.
Varietas tersebut diklaim mampu menandingi padi hibrida dari segi
produktivitas dan tahan serangan hama wereng. Benih padi yang dinamakan
Sertani itu merupakan hasil penyilangan padi lokal antara pejantan
dayang rindu dengan betina sirendah.

Surono menyebutkan, produktivitas benih padi Sertani bisa mencapai
sekitar 13 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. "Uji coba di
Sumedang kemarin ada yang bisa panen 11, 8 ton GKP per hektare,"
ungkapnya.
Surono menyayangkan tidak adanya perhatian ataupun bantuan dari
pemerintah. Karena itu, dia hanya memasarkan benih temuannya ke
komunitas petani tertentu, tanpa ambil untung. Beberapa daerah yang
sudah menggunakan varietas benih padi Sertani seperti Lampung, Klaten,
dan Sumedang.
"Yang penting buat saya bagaimana caranya bisa memberi makan
masyarakat Indonesia dari hasil riset saya," katanya.
Sumber: Media Indonesia
Buah Kawis
Buah Kawis
Buah kawis berbentuk bulat dan bertempurung ini, memiliki berbiji
dalam jumlah yang cukup banyak, seperti buah srikaya. Daging buahnya
berwarna coklat kehitam-hitaman, dengan aroma buahnya sangat khas rasa
manis asem.
Ciri utama tanaman ini berdaun kecil-kecil seperti asam keranji, yang berduri. Buahnya memiliki tekstur berkerut dengan warna kulit dan buahnya berwarna coklat keabu-abuan dan isinya berbulir warna hitam kecoklatan, tetapi tidak bersekat seperti jeruk. Buah yang memiliki nama latin `limonia acidissima synferonia` ini, juga memiliki aroma khas dan memang cukup banyak dijumpai di kabupaten ini sebagai daerah berkapur.
Bila anda ingin merasakan rasa buah kawis secara langsung dapat dimakan dengan campuran gula pasir dan air.
Masyarakat sering menjajakan buah kawis dalam bentuk sirup yang dikemas dengan botol, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh untuk teman atau kerabat karena sirup kawis jarang dijumpai di daerah lainnya.
Sirup kawis juga disebut ”The Java Cola” atau cola dari Jawa sebagai salah satu “trade mark” Rembang yang juga terkenal dengan sebutan kota garam.
Untuk mendapatkan satu botol sirup kawis, anda cukup merogoh kocek sebesar Rp17.000 untuk ukuran 620 mililiter atau menginginkan kemasan yang lebih besar dengan harga berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu lebih sesuai ukuran beratnya.
Ciri utama tanaman ini berdaun kecil-kecil seperti asam keranji, yang berduri. Buahnya memiliki tekstur berkerut dengan warna kulit dan buahnya berwarna coklat keabu-abuan dan isinya berbulir warna hitam kecoklatan, tetapi tidak bersekat seperti jeruk. Buah yang memiliki nama latin `limonia acidissima synferonia` ini, juga memiliki aroma khas dan memang cukup banyak dijumpai di kabupaten ini sebagai daerah berkapur.
Bila anda ingin merasakan rasa buah kawis secara langsung dapat dimakan dengan campuran gula pasir dan air.
Masyarakat sering menjajakan buah kawis dalam bentuk sirup yang dikemas dengan botol, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh untuk teman atau kerabat karena sirup kawis jarang dijumpai di daerah lainnya.
Sirup kawis juga disebut ”The Java Cola” atau cola dari Jawa sebagai salah satu “trade mark” Rembang yang juga terkenal dengan sebutan kota garam.
Untuk mendapatkan satu botol sirup kawis, anda cukup merogoh kocek sebesar Rp17.000 untuk ukuran 620 mililiter atau menginginkan kemasan yang lebih besar dengan harga berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu lebih sesuai ukuran beratnya.
Langganan:
Postingan (Atom)