berusaha dan bekerja serta yakin dengan kemampuan yang kita miliki sebenarnya lebih dari yang dimiliki orang lain
English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 14 Januari 2012

Membuat Tepung dari Kulit Pisang



Tepung dari beras, ketela itu biasa. Tapi tepung dari kulit pisang itu baru luar biasa. Inilah cara membuatnya.
Kurangnya produksi bahan pangan seperti beras, tepung terigu, kedelai, minyak goreng dan gula di Kalimantan Barat, menyebabkan pedagang memasok sekitar 80 persen bahan pangan tersebut dari Pulau Jawa.
Transportasi pengangkutan lewat laut yang terhambat gelombang besar menyebabkan harga bahan pangan melonjak tinggi. Seperti harga tepung terigu dari Rp 6.500 per kilogram, naik menjadi Rp 7.000 per kilogram.
Ini mengakibatkan produk pangan dengan bahan dasar tepung, seperti mie harganya juga melonjak. Adanya pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi tepung dapat mensubstitusi tepung terigu sehingga harga tepung terigu yang mahal dapat diimbangi.
Kulit pisang mengandung vitamin C, vitamin B, kalsium, protein, dan juga lemak yang cukup (Sulffahri.2008). Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air yaitu 68,90 persen dan karbohidrat (zat pati) sebesar 18,50 persen.
Karena kulit pisang mengandung zat pati maka kulit pisang dapat diolah menjadi tepung. Berikut bagaimana membuat tepung dari kulit pisang seperti dilakukan oleh Leyla Noviagustin, Riin Sandra Yanti, dan Utin Febri Yantika, tiga mahasiswi Pendidikan Kimia Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat.
PILIH PISANG RAJA
Kulit pisang yang dipilih untuk diolah adalah kulit pisang raja karena mengandung kalsium (Ca) sebesar 10 mg. Selain itu kulit pisang raja lebih tebal dari kulit pisang lain (Sulfahri, 2008). Sehingga memiliki potensi pati yang cukup besar untuk diolah menjadi substituen tepung terigu.
Cara membuat tepung pisang mudah dan sederhana. Berikut ini cara membuat tepung pisang:
Bahan:
1. Pisang raja
2. Natrium tiosulfat (dapat dibeli di toko bahan kimia)
Alat:
1. Pisau
2. Perajang
3. Alat pengering
4. Alat penghancur atau penggiling
5. Ayakan atau saringan
Fungsi masing-masing peralatan:
1. Penggiling ukuran kecil untuk kapasitas satu kwintal atau lebih sesuai yang diinginkan. Penggilingan digunakan untuk menghancurkan potongan pisang menjadi tepung.
2. Pisau digunakan untuk memotong pisang menjadi ukuran kecil-kecil sebelum dilarutkan kedalam bahan natrium tiosulfat
3. Saringan/ayakan sebagai alat untuk menyaring/mengayak hasil tepung, guna mendapatkan tepung yang baik dan halus serta berkualitas.
4. Plastik yang lebar dan bersih sebagai alat untuk menaruh tepung pisang ketika dijemur agar supaya kering untuk memudahkan dalam proses penggilingannya.
5. Sinar matahari sangat diperlukan dalam proses pembuatan tepung pisang dalam proses pengeringan.
6. Plastik kemasan untuk membungkus tepung pisang telah jadi.
7. Plastik sealer, alat menutup kantong plastik.
Cara membuatnya:
1. Pisang yang telah tua dikupas kulitnya, dipisahkan daging buahnya.
2. Potong pisang kecil-kecil dengan ukuran kurang lebih 1 cm x 0,5 cm dengan pisau atau alat pengiris.
3. Rendam pisang dalam larutan natrium tiosulfat, setelah itu ditiriskan.
4. Keringkan potongan pisang. Pengeringan dengan sinar matahari perlu waktu kurang lebih dua hari. Jika menggunakan alat pengering gabah (dengan suhu 60 derajat celsius) proses pengeringan lebih cepat. Untuk mengeringkan dua kwintal pisang segar hanya perlu waktu 1 jam 20 menit.
5. Setelah kering atau kadar air kurang lebih 14 persen, potongan pisang dapat digiling/dihancurkan dengan menggunakan hammer mill atau ditumbuk.
6. Hasil penggilingan kemudian diayak.
7. Tepung pisang yang lolos dari ayakan dikemas dalam kantong plastik.
Penggunaan zat kimia Natrium tiosulfat bertujuan untuk menghambat terjadinya proses oksidasi pada kulit pisang, sehingga dapat mencegah timbulnya pencoklatan kulit pisang. Sehingga tepung yang dihasilkan akan lebih bersih. @ ken

Pertanian - Rembang


Siwalan
Sebagian wilayah Kabupaten Rembang termasuk kawasan pegunungan kapur, sehingga tumbuh subur pohon siwalan di sejumlah daerah, sehingga produksi buah siwalan dan air nira atau dikenal legen cukup melimpah.

Untuk mendapatkan buah legen yang tumbuh subur di daerah kapur tersebut, anda cukup datang ke Desa Landoh, Kecamatan Sulang, dengan jarak tempuh dari Kota Rembang ke arah Blora sekitar delapan kilometer.

Di sepanjang jalan banyak dijumpai pedagang yang menjajakkan minuman khas legen beserta buah siwalan dengan harga yang cukup murah. Cara penyimpanan legen tersebut juga cuku khas dengan menggunakan bambu.

Minuman yang disadap dari tangkur buah siwalan ini biasanya disajikan dengan es batu sebagai pelepas dahaga. Anda juga bisa meminumnya dengan ditemani makanan ringan atau aneka makanan gorengan.

Selain menyegarkan, ternyata ditemukan beberapa fakta bahwa legen bisa membantu kesehatan fungsi ginjal.

Jenis minuman yang diambil dari tangkur buah siwalan ini juga cocok dijadikan pelepas dahaga setelah menjalani ibadah puasa. Minuman ini juga bisa dikombinasikan dengan potongan buah siwalan yang disajikan dengan es batu seperti layaknya es kelapa muda.

Varitas Padi Unggulan Temuan Petani Cirebon

Kemampuan petani Indonesia tampaknya semakin mumpuni. Buktinya petani asal Cirebon, Surono Danu, berhasil menemukan varitas benih padi baru.
Varietas tersebut diklaim mampu menandingi padi hibrida dari segi produktivitas dan tahan serangan hama wereng. Benih padi yang dinamakan Sertani itu merupakan hasil penyilangan padi lokal antara pejantan dayang rindu dengan betina sirendah.
 

 
"Saya mulai coba menyilangkan sejak 1985 dan diuji tanam di petani sejak 1992," ujar Surono, pemulia benih tersebut yang melakukan riset di Lampung, di sela Pertemuan Pemuliaan Padi Galur Lokal Berpotensi Produksi Gabah Tinggi, di Hotel Cipta Mampang, Jakarta, pekan lalu.
Surono menyebutkan, produktivitas benih padi Sertani bisa mencapai sekitar 13 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. "Uji coba di Sumedang kemarin ada yang bisa panen 11, 8 ton GKP per hektare," ungkapnya.
Surono menyayangkan tidak adanya perhatian ataupun bantuan dari pemerintah. Karena itu, dia hanya memasarkan benih temuannya ke komunitas petani tertentu, tanpa ambil untung. Beberapa daerah yang sudah menggunakan varietas benih padi Sertani seperti Lampung, Klaten, dan Sumedang.
"Yang penting buat saya bagaimana caranya bisa memberi makan masyarakat Indonesia dari hasil riset saya," katanya.
Sumber: Media Indonesia

Buah Kawis



Buah Kawis

Buah kawis berbentuk bulat dan bertempurung ini, memiliki berbiji dalam jumlah yang cukup banyak, seperti buah srikaya. Daging buahnya berwarna coklat kehitam-hitaman, dengan aroma buahnya sangat khas rasa manis asem.

Ciri utama tanaman ini berdaun kecil-kecil seperti asam keranji, yang berduri. Buahnya memiliki tekstur berkerut dengan warna kulit dan buahnya berwarna coklat keabu-abuan dan isinya berbulir warna hitam kecoklatan, tetapi tidak bersekat seperti jeruk. Buah yang memiliki nama latin `limonia acidissima synferonia` ini, juga memiliki aroma khas dan memang cukup banyak dijumpai di kabupaten ini sebagai daerah berkapur.

Bila anda ingin merasakan rasa buah kawis secara langsung dapat dimakan dengan campuran gula pasir dan air.

Masyarakat sering menjajakan buah kawis dalam bentuk sirup yang dikemas dengan botol, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh untuk teman atau kerabat karena sirup kawis jarang dijumpai di daerah lainnya.

Sirup kawis juga disebut ”The Java Cola” atau cola dari Jawa sebagai salah satu “trade mark” Rembang yang juga terkenal dengan sebutan kota garam.

Untuk mendapatkan satu botol sirup kawis, anda cukup merogoh kocek sebesar Rp17.000 untuk ukuran 620 mililiter atau menginginkan kemasan yang lebih besar dengan harga berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu lebih sesuai ukuran beratnya.

Lontong Tuyuhan

Lontong Tuyuhan

Sekilah mendengar kata-kata lontong, bayangan kita akan terbawa dengan makanan yang tersaji dengan beras yang dimasak dengan bungkusan daun pisang berbentuk bulat atau lainnya sesuai selera pembuatnya. Sedangkan lauk yang biasa digunakan merupakan lauk yang berkuah, seperti halnya sayur gori atau opor ayam.

Penyajian lontong tuyuhan yang berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Rembang ini, juga hampir sama dengan yang pernah dirasakan masyarakat lain dari sejumlah daerah, perbedaannya hanya pada lauknya berupa opor ayam yang dibuat lebih pedas dari opor yang terbiasa dibuat masyarakat.

Opor ayam khas Tuyuhan ini tidak perlu ada penambahan cabai atau sambal, karena kuahnya sudah pedas.

Ke khasan lainnya, terletak pada bentuk lontongnya yang berbentuk segitiga dengan dibungkus daun pisang dan cara menjajakkannya juga cukup sederhana seperti halnya pedagang kaki lima yang dijajakkan dengan dipikul menyusuri jalan raya.

Awalnya, lontong tuyuhan tersebut disajikan menyusuri jalan-jalan protokol untuk melayani masyarakat yang memang sedang lapar.

Saat ini, sebagian pedagang mendapatkan fasilitas tempat mangkal, sehingga pengunjung dari luar kota yang hendak merasakannya cukup memilih di antara para pedagang yang menempati kios secara berjajar.

Lokasi yang menjadi sentra pedagang berada di Desa Tuyuhan dengan jarak tempuh dari Kota Lasem, Rembang sekitar 2,5 kilometer.

Bagi anda yang tak ingin repot-repot ke sentranya, cukup datang ke Alun-alun Rembang pada malam hari banyak pedagang lontong tuyuhan yang menjajakkan masakan khas Rembang.

Selain bisa menikmati suasana keramaian di Alun-alun Rembang pada malam hari, anda juga bisa menikmati pemandangan bangunan Masjid Agung Rembang yang berdiri megah tepat di depan Alun-alun.

Menikmati lontong tuyuhan tidak harus merogoh kocek terlalu besar karena harga satu porsi lontong tuyuhan plus minuman hanya Rp7.000.

KABUPATEN REMBANG



KABUPATEN REMBANG
Kabupaten Rembang yang berada di perlintasan jalur transportasi darat antar kota dan antar provinsi, seharusnya memiliki kesempatan memanfaatkan sejumlah potensi yang ada. Tetapi beberapa tahun lalu kota ini masih berstatus sebagai daerah tertinggal.

Kini mengalami kemajuan yang cepat dan berhasil lepas dari predikat daerah tertinggal, bahkan berbagai mega proyek dibangun, diantaranya untuk mencukupi kebutuhan air telah dibangun embung-embung besar seperi embung lodan, embung panohan,dan embung-embung kecil lainnya.
Kemajuan Rembang dipastikan masih bisa ditingkatkan, menyusul lokasinya berada di perlintasan Jalur Pantura Timur serta berbagai mega proyek akan dibangun di kota ini, seperti pabrik semen dan sebelumnya juga dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke yang akan terkoneksi pada jaringan listrik Pulau Jawa dan Bali dan akan menghasilkan daya hingga 2.000 megawatt.

Selain itu, Rembang juga akan memiliki Pelabuhan Umum Nasional (PUN) di Desa Sendangmulyo senilai Rp386 miliar yang rencananya akan dioperasikan pada awal 2012. Pelabuhan tersebut, diyakini akan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar, menyusul pelabuhan tersebut akan dimanfaatkan untuk masuk-keluar kapal barang berbobot mati 30-40 gross tonnage.

Kabupaten Rembang yang memiliki luas 101.408 hektare yang terbagi menjadi 14 kecamatan dan 294 desa, juga memiliki sejumlah potensi galian tambang seperti, pasir kuarsa, pospat, batu bara, batu gamping, dolomit, kalsit, andesit, tras, lignit, tanah liat, ball clay, dan gipsum.

Sejumlah galian tambang tersebut biasa digunakan untuk berbagai keperluan industri, seperti pasir kuarsa biasa digunakan sebagai bahan dasar keramik, gelas / kaca, semen, dan industri lain (cat, karet, gerinda, logam, dan bata tahan api), demikian pula pospat yang digunakan oleh industri pupuk dan industri kimia lain seperti detergen dan asam fosfat.

Potensi galian tambang tersebut juga menarik investor untuk mendirikan pabrik semen di kota ini.

Potensi pertanian dan peternakan yang dimiliki kota ini, juga tak kalah dengan daerah lain, seperti komoditas tanaman pangan yang potensial dikembangkan menjadi sebuah usaha agribisnis unggulan di Kabupaten Rembang adalah komoditas jagung dan kacang tanah, menyusul di kabupaten tetangga, yakni Pati terdapat dua pabrik besar makanan olahan dari bahan baku kacang tanah.

Sedangkan komoditas tanaman sayur-sayuran yang menjadi unggulan, yakni tanaman cabe merah varietas tampar yang merupakan plasma nutfah asli Rembang dan memiliki karakteristik rasa sangat pedas, buah tidak mudah busuk, warna merah cerah, dan produktivitasnya mencapai 11,25 ton/ha serta harganya cukup bersaing di pasaran.

Produktivitasnya masih bisa dikembangkan dan bisa dijadikan daya tarik investasi karena sentra produksi cabe merah tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Kecamatan Sarang, Kragan, sulang, Sale, Kaliori, dan Sumber.

Komoditas peternakan yang menjadi unggulan Rembang, yakni sapi dan domba. Bahkan Kabupaten Rembang merupakan salah satu sentra produksi sapi potong di Jawa Tengah, menyusul populasi sapi potong pada tahun 2005 mencapai 97.257 ekor dan menempati urutan keempat di Jateng.

Kegiatan budidaya sapi potong meliputi usaha pembibitan ( Breeding ) dan penggemukan (Fattening ). Adapun jenisnya, yakni sapi ongole, brahman, simmental, limousine dan brangus.

Potensi pengembangan sapi potong menjadi usaha agribisnis terpadu sangat terbuka dan prospektif mengingat daya dukung sumber daya manusia dan juga sumber daya alam berupa lahan untuk hijauan pakan ternak maupun adanya limbah pertanian yang belum termanfaatkan secara optimal.

Selain itu adanya kegiatan inseminasi buatan ( Artificial Insemination ) pada sapi semakin memberikan jaminan akan adanya ketersediaan sapi bibit dan sapi bakalan yang berkualitas genetik unggul. Dari sisi pemasaran, permintaan sapi potong terus mengalami peningkatan baik pasar lokal, regional, nasional, bahkan internasional.

Potensi Rembang di bidang pariwisata juga cukup menarik untuk dikunjungi, karena beberapa objek wisata yang ada memiliki nilai sejarah cukup tinggi, seperti Makam Kartini dan Museum Kartini yang menyimpan sejumlah koleksi dan kebiasaan semasa hidup pejuang kaum perempuan R.A. Kartini selama hidup bersama suaminya Raden Adipati Joyoningrat Bupati Rembang.

Sejarah perjuangan salah satu wali di Jawa juga bisa ditemukan di Kota Rembang, yakni tempat pasujudan dan Makam Sunan Bonang yang berada di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Rembang, serta sejumlah objek wisata bersejarah lainnya maupun objek wisata alam untuk refresing keluarga.

Kerja keras pemerintah kabupaten Rembang melalui empat pilar program strategis pembangunan yang dicanangkan Bupati Moch Salim, meliputi peningkatan infrastruktur pelayanan publik, pendidikan gratis, pengobatan gratis serta peningkatan ekonomi rembang diharapkan benar-benar direalisasikan agar masyarakat bisa merasakan adanya pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Mentan : “Asal Mau Maka Kita Tidak Akan Kekurangan Pangan”

Pernyataan Dr, Ir. Suswono, Menteri Pertanian, tersebut disampaikan pada waktu Acara Panen Kedelai dan Temu Wicara di Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren, Ngawi, Jawa Timur (9/1/2012). Menteri Pertanian menyatakan bahwa tahun 2014, swasembada kedelai harus dapat diwujudkan. Hal ini didasarkan pada potensi kawasan hutan milik Perhutani yang mencapai 1,6 juta ha yang dapat ditanami  dengan tanaman pangan dan potensi varietas unggul kedelai yang dapat mencapai 2,5 – 3 ton/ha. Jika 20 persen dari 1,6 juta ha lahan perhutani yang tersedia atau seluas 400.000 ha  untuk ditanami kedelai 2 x tanam setahun dengan dengan hasil rata-rata  2 ton/ha, maka akan diperoleh tambahan produksi kedelai sebesar 800.000 ton kedelai. Oleh karena itu, pemanfaatan lahan oleh petani pesanggem (penggarap kawasan hutan) yang dibantu Kementerian Pertanian dan Perhutani akan dapat membantu menjaga kawasan hutan serta menambah kesejahteraan petani dari tambahan pendapatan hasil tanaman pangan, termasuk kedelai. Namun demikian, Menteri Pertanian berpesan agar petani LMDH ikut menjaga dan merawat pohon hutan, khususnya pohon jati muda, disamping membudidayakan kedelai.

Pada waktu Temu Wicara dengan para petani LMDH , penyuluh pertanian, petugas kehutanan sebanyak kurang lebih 450 orang yang berasal dari Ngawi, Ponorogo, Blitar, dan Bojonegoro, Menteri Pertanian menyerahkan  benih kedelai kelas FS kepada ketua Kelompok LMDH dari KPH Ngawi, Bojonegoro dan Blitar masing-masing sebesar 1 ton. 

Disisi lain, Dr. Haryono, Kepala Badan Litbang Pertanian dalam laporannya menyampaikan bahwa 1) dari daerah Ngawi ini mudah-mudahan muncul semangat baru untuk tanam kedelai agar dapat mendukung program swasembada kedelai 2014 melalui kerjasama Kementerian Pertanian, Perhutani dan petani di kawasan hutan, 2) Badan Litbang Pertanian telah memiliki pengalaman dalam pengembangan tanaman pangan khususnya padi gogo dibawah pohon hutan di daerah Blora, 3) Benih kedelai jenis FS (Benih Dasar) hasil tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi benih SS (Benih Pokok) dan selanjutnya benih ES  (Benih Sebar) guna mendukung program pengadaan benih JABALISIM (Jalur Benih Antar Lapang dan Musim), dan 4) Badan Litbang Pertanian telah menfokuskan arah penelitiannya guna mendukung 4 target sukses Kementerian Pertanian.

Kegiatan pengembangan kedelai di kawasan hutan jati ini sejalan dengan program Bupati Ngawi untuk mengembangkan pertanian berbasis ekonomi. Karena kedelai sangat diperlukan untuk mendukung industri tempe. Oleh karena itu, peluang dari Perhutani yang menyediakan lahannya di sela pohon jati muda dapat dikembangkan tanaman kedelai maupun tanaman pangan lainnya seperti jagung dan tanaman rempah seperti jahe, temu ireng, kunir dan lain sebagainya.

Hypoma1 dan Hypoma2 : Varietas Unggul Kacang Tanah Tahan Bercak dan Karat Daun


Hypoma1 dan Hypoma2

Peningkatan produksi kacang tanah terus dilakukan agar kekurangan produksi dalam negeri dapat dipenuhi. Kendala peningkatan produksi pada akhir-akhir ini adalah adanya dampak perubahan iklim yang dapat menyebabkan kekeringan dan mewabahnya penyakit pada kacang tanah.  Salah satu masalah biotik utama tanaman kacang tanah adalah penyakit bercak daun dan karat daun dan masalah abiotik adalah kekeringan pada akhir masa pertumbuhan akibat pergantian musim hujan ke musim kemarau yang terjadi secara tegas. Kegiatan pemuliaan tanaman kacang tanah ke arah peningkatan produktivitas serta ketahanan terhadap beberapa masalah di atas terus dilakukan, Hypoma1 dan Hypoma2 adalah dua nama varietas unggul baru yang berhasil dilepas akhir tahun 2011.

Hypoma 1 adaptatif  di lingkungan optimal, dengan potensi hasil  3,70 t/ha polong kering (rata-rata nasional 2 t/ha). Varietas tersebut cukup tahan terhadap penyakit bercak dan karat daun sekaligus agak tahan terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Varietas Hypoma2 mempunyai daya adaptasi umum yang baik terutama di lingkungan-lingkungan dengan musim hujan yang terbatas yang sering menyebabkan tanaman kacang tanah mengalami cekaman kekeringan pada fase generatif. Potensi hasil varietas Hypoma2 mencapai 3,50 t/ha polong kering (rata-rata nasional 2 t/ha), toleran kekeringan, serta agak tahan terhadap penyakit bercak dan karat daun.

Kacang tanah varietas Hypoma1 dan Hypoma2 tergolong ke dalam tipe Spanish (dua biji/polong), ukuran polong dan biji sedang, kulit ari biji berwarna rose, dan umur masak antara 90-91 hari. Dengan karakter demikian kedua varietas tersebut dapat ditanam di daerah dengan jumlah bulan basah yang pendek, atau daerah yang memiliki tipe iklim D. Selain itu kacang tanah berumur genjah – sedang akan meningkatkan intensitas panen dan terhindar dari kekeringan.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Balitkabi

Investasi Pabrik Gula di Rembang Masih Prospektif

Peluang investasi pabrik gula di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, masih prospektif karena daerah ini memiliki lahan tebu seluas 7.000 hektare, kata Wakil Bupati setempat Abdul Hafidz.

"Meskipun di kabupaten tetangga, yakni Blora, sedang dibangun pabrik milik PT Gendhis Multi Manis, tetapi prospek investasi pabrik gula masih bagus," katanya, di Rembang, Rabu.

Kabupaten Rembang layak menjadi pertimbangan investor untuk mendirikan sebuah pabrik gula berskala besar, kata dia seusai menghadiri rapat membahas pengendalian penanaman modal di kompleks Pendapa Kabupaten Rembang.

Ia mengatakan pemkab hingga kini masih menanti keseriusan investor Jepang yang berminat mendirikan pabrik tebu berskala nasional menyusul potensi tebu di kabupaten ini.

"Investor dari Jepang mensyaratkan ketersediaan lahan pertanian tebu mencapai 8.000 hektare. Meski kini baru tersedia kurang dari angka itu, kami masih menanti komunikasi lebih lanjut dari investor tersebut," kata dia.

Hafidz mengatakan kelangsungan budi daya tebu di daerah itu cukup bisa diandalkan sebab hampir semuanya dilakukan di lahan semi marjinal, sehingga tidak khawatir tergeser oleh jenis tanaman pertanian lainnya.

"Kami sebenarnya menanti datangnya seorang investor berasal dari kalangan swasta murni untuk mendirikan sebuah pabrik di Rembang," kata dia.

Hafidz optimistis jika sebuah pabrik gula berskala nasional berdiri di kabupaten itu, pertanian tebu akan terus tumbuh.

Hanya, kata dia, pemkab tidak mau berpaku pada satu rencana dengan hanya menunggu investor.

"Sembari menunggu datangnya calon investor, kami serius mempersiapkan infrastruktur yang memungkinkan kerja sama pemenuhan bahan baku berupa pengiriman tebu dari petani Rembang ke PT Gendhis Multi Manis di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora," kata dia.

Ia mengatakan pembuatan jalan tembus Krikilan-Kalinanas yang menghubungkan kabupaten itu dengan wilayah Kabupaten Blora bagian barat sedang dalam tahap kajian perbaikan.

"Jalan tembus itu disiapkan untuk dibuat guna mempersingkat jarak dan waktu pengangkutan tebu dari Rembang ke Blora oleh petani kabupaten ini," kata dia.

Hafidz menjelaskan pembukaan jalan tembus itu akan memudahkan para petani Rembang yang akan menjual tebunya ke PT Gendhis Multi Manis tanpa harus memutar melalui Sulang-Bulu-Kota Blora-Ngawen-Kunduran-Todanan. (Antara)

From Fossil Fuels to Ecosystem Services: Feeding a growing population

Nov 2, 2011: With the current global economic crisis, the associated hike in food prices, and the imminent reality of one billion people facing food insecurity, how can we ensure the provision of a long-term food supply for a global population that has now reached seven billion people? 
 
 
This article has been originally published on Alternatives Intenational
Some experts, including the Food and Agriculture Organisation (FAO), argue that food production needs to increase by 70 per cent by 2050, whereas others argue that it is a matter of re-distribution, blaming a wasteful system where 30-50 per cent of food produced worldwide is thrown away, never consumed, or left to rot in fields. By the same process, not only food but water and energy go to waste as well.
We are facing two main challenges : We must find the means to provide a more equal and accessible supply of food to a growing world population; at the same time, we must aim to minimize waste and create solutions that do not result in damaging effects on both the climate and ecosystems.

A global UN study carried out between 2000 and 2005 has shown that the natural systems on which we all depend are now so critically stressed - through over-exploitation, invading species, and environmental pollutants- that they are losing their ability to supply benefits to our societies and secure human welfare in the form of ’ecosystem services’.

This degradation is critical, as human activity - like agriculture - relies on a number of ecosystem services such as water purification, natural pest control and maintenance of soil fertility. Part of the problem is also that traditional agriculture is heavily reliant on fossil fuels, through transport and the production of fertilisers and pesticides and therefore dependent on the energy prices, which are always fluctuating, and expected to increase.

Although organic agriculture - a practice that uses non-synthetic nutrient cycling processes, excludes or rarely use synthetic pesticides, and sustains or regenerates the soil quality, and optimizes animal and plant interactions - is no cure-all solution, it could constitute a useful approach. While opponents have often claimed that organic agriculture could not possibly produce enough food to feed the world’s population, a recent study refutes these claims.

Published by scientists from the University of Michigan and Michigan State University in 2006, the study’s estimates indicated that organic methods could provide enough food on a global per capita basis to sustain the current human population, and potentially an even larger population, without increasing the agricultural land base. In fact, the study revealed that yields in developing countries could increase dramatically, doubling or tripling in some cases by switching to organic farming.

Further studies have also proven that organic agriculture reduces the vulnerability of farmers to the negative effects of climate change and variability as it reduces input costs and increases the diversity of income sources. Production under organic agriculture systems is less prone to extreme weather conditions such as drought ; this is due to the maintenance of nutrients and the increase of soil organic matter which stores more water than conventional cultivation.

An example of the benefits that can result from organic agriculture is Project Tigray in Ethiopia, initiated by the Institute for Sustainable Development (ISD) in association with the Bureau of Agriculture and Natural Resources (BoANR) of Tigray, in partnership with the Mekele University. This project began in 1995 in one of Ethiopia’s most food insecure areas. The aim was to improve productivity and food security in a fast-growing and predominantly rural population while reinvigorating the environment. The results and data collected from the Tigray Project confirmed the claim that organic farming can yield up to three times as much food on individual farms in developing countries as low-intensive methods on the same land.

The Tigray project is proof that human activity, in particular agriculture, can actually support and enhance rather than disrupt the natural cycles that allow for the healthy functioning of the ecosystem as a whole. Farmers, development agents, and ISD staff have identified a number of positive effects including increased biological diversity, improved soil fertility, decreased incidence of weeds, whereby the seeds are killed when the compost heats up during the decomposition process, decreased vulnerability to drought, higher resistance to pests, and lower costs for farmers compared with buying artificial fertilisers. The project also demonstrates that a little money can really go a long way when farmers take advantage of the free services that nature has to offer (e.g. composting, a varied crop rotation, inter-cropping of several different species of crops on one field and collection/storage of rainwater). The project is affordable, farmer-led, community-based, and builds on the local technologies and knowledge without creating relationships of dependency.

The project was particularly beneficial for women and women-headed families, who were given priority throughout the program. Effort was made to enhance the position of women in the communities by training and providing women with seeds and seedlings for plant nurseries, organizing study trips, and facilitating the purchasing of sheep, goats and cows in order to be more self-sufficient. As a result, local communities have been empowered, and have in turn developed legally-recognised bylaws to govern their land and other natural resource management activities.

The results of the project were so positive that the government has now adopted a similar approach as its main strategy for combating land degradation and poverty in Ethiopia. The successes of the project have led to its expansion to include many more communities in Tigray and in other parts of the country.

Access to and increased development of local markets, as well as local processing capabilities and export infrastructure are an important step in making organic agriculture a viable and beneficial strategy in the Global South. Wider recognition of the potential of organic agriculture is needed and further research must take into account different climatic conditions and approach each situation with cultural sensitivity.

Organic agriculture, with the aim to preserve natural nutrients and enhance biodiversity, can provide for seven billion people while maintaining and utilising the ecosystems services. More importantly, the project raised, probably for the first time, the question of paying farmers, not only for what they produce but for providing important ecosystem services such as maintaining biological diversity and absorbing greenhouse gases. The current devaluation of ecosystem services can at least partially explain present environmental problems in agriculture, as farmers have no incentives to protect ecosystems or use the services they provide in a sustainable way.

What would agriculture look like if farmers made their living not only on how much food they produce, but also based on how much their farming practice enhances nature?

Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]